Rabu, 07 Juni 2017

RESUME KE - 6 PSIKOLOGI PENDIDIKAN

Motivasi untuk meraih sesuatu

Perhatian terhadap motivasi di sekolah telah dipengaruhi oleh perspektif kognitif. Kita akan mengetahui sejumlah strategi kognitif efektif untuk meningkatkan motivasi murid untuk meraih sesuatu atau untuk berprestasi. Kita mulai bagian ini dengan mengeksplorisasi perbedaan krusial antara motivasi ekstrinsik (eksternal) dan motivasi instrinsik (internal). Ini akan membawa kita pada pembahasan beberapa pandangan kognitif penting tentang motivasi. Kemudian, kita akan mengkaji efek dari kecemasan terhadap prestasi dan beberapa strategi instruksional untuk membantu murid agar lebih termotivasi.

Motivasi Ekstrinsik dan Instrinsik

Motivasi Ekstrinsik adalah melakukan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu yang lain (cara untuk mencapai tujuan). Motivasi ekstrinsik sering dipengaruhi oleh insentif eksternal seperti imbalan dan hukuman. Misalnya, murid mungkin belajar keras menghadapi ujian untuk mendapatkan nilai yang baik.
Perspektif behavioral menekankan arti penting dari motivasi ekstrinsik dalam prestasi ini, sedangkan pendekatan kognitif dan humanistis lebih menekankan pada arti penting dari motivasi instrinsik dalam prestasi. Motivasi Intrinsik adalah motivasi internal untuk melakukan sesuatu demi sesuatu itu sendiri (tujuan itu sendiri). Misalnya, murid mungkin belajar menghadapi ujian karena dia senang dengan mata pelajaran yang diujikan.

Ada 2 macam motivasi intrinsic, yaitu :
1.       Determinasi diri dan pilihan personal
Salah satu pandangan tentang motivasi instrinsik menekankan pada determinasi diri (deCharms, 1984; Deci, Koestner, &  Ryan, 2001; Deci & Ryan, 1994; Ryan & Deci, 2000). Dalam pandangan ini, murid ingin percaya bahwa mereka melakukan sesuatu karena kemauan sendiri, bukan karena kesuksesan atau imbalan eksternal. Para periset menemukan bahwa motivasi internal dan minat instrinsik dalam tugas sekolah naik apabila murid punya pilhan dan peluang untuk mengambil tanggung jawab personal atas pembelajaran mereka.
2.       Pengalaman optimal. Mihaly Csikszentmihalyi (1990,1993,2000; Nakamura & Csikszentmihalyi, 2002) juga mengembangkan ide yang relevan untuk memahami motivasi instrinsik. Dia mempelajari pengalaman optimal ini dari orang-orang selama lebih dari dua decade. Orang melaporkan bahwa pengalaman optimal ini berupa perasaan senang dan bahagia yang besar.  Csikszentmihalyi menggunakan istilah flow untuk mendeskripsikan pengalaman optimal dalam hidup. Dia menemukan bahwa pengalamann optimal itu kebanyakan terjadi karena orang merasa mampu menguasai dan berkonsentrasi penuh saat melakukan suatu aktivitas. Dia mengatakan bahwa pengalaman optimal ini terjadi ketika individu terlibat dalam tantangan yang mereka anggap tidak terlalu sulit tetapi juga tak terlalu mudah. Flow paling mungkin terjadi di area dimana murid ditantang dan menganggap diri mereka punya keahlian yang tinggi. Ketika keahlian murid tinggi tetapi aktivitas yang dihadapinya tidak menantang , hasilnya adalah kejemuan. Ketika level tantangan dan keahlian adalah rendah, murid merasa apati. Dan ketika murid menghadapi tugas sulit yang dirasa tidak bisa mereka tangani, maka mereka merasa cemas.
3.       Imbalan Ekstrinsik dan motivasi intrinsik. Imbalan dapat berguna untuk mengubah perilaku. Akan tetapi, dalam beberapa situasi imbalan atau hadiah dapat melemahkan pembelajaran. Dalam sebuah studi, murid yang sudah tertarik dengan seni dan tidak tahu akan ada imbalan atau hadiah menghabiskan lebih banyak waktu untuk menggambar ketimbang murid yang juga tertarik dengan seni tetapi tahu akan ada hadiah (Lepper, Greene, & Nisbettr, 1973).
Akan tetapi, hadiah dikelas dapat berguna (Cameron, 2001). Dua kegunaannya adalah (Bandura, 1982; Deci, 1975): (1) sebagai insentif agar mau mengerjakkan tugas, di mana tujuannya adalah mengontrol perilaku murid, dan (2) mengandung informasi tentang penguasaan keahlian. Ketika imbalan yang ditawarkan memberikan informasi tentang penguasaan keahlian atau kemampuan, murid akan merasa kompeten dan bersemangat. Poin penting disini adalah bahwa bukan imbalan itu sendiri yang menyebabkan efek, tetapi tawaran atau ekspetasi atas imbalan itulah yang memberika efek (Schunk, 2001). Imbalan yang digunakan sebagai insentif menimbulkan persepsi bahwa perilaku murid disebabkan oleh imbalan eksternal, bukan oleh motivasi dalam diri murid untuk menjadi pandai.

4.       Pergeseran developmental dalam motivsi ekstrinsik dan instrinsik. 
      Banyak psikolog dan pendidik percaya adalah penting bagi murid untuk mengembangkan internalisasi dan motivasi instrinsik yang lebih besar saat mereka tumbuh. Akan tetapi, periset menemukan bahwa saat murid pindah dari SD ke sekolah menengah, motivasi intrinsic mereka menurun (Harter, 1996). Dalam sebuah studi riset, penurun motivasi intrinsic terbesar dan peningkatan motivasi ekstrinsik terbesar terjadi di antara grade enam dan tujuh (Harter, 1981). Dalam studi lain, saat murid naik grade enam sampai delapan, makin banyak murid yang mengatakan dalam studi ini, murid yang termotivasi secara intrinsic berprestasi jauh lebih baik ketimbang mereka yang termotivasi secara ekstrinsik.
Mengapa pergeseran ke arah motivasi ekstrinsik ini terjadi saat murid naik ke kelas yang lebih tinggi? Salah satu penjelasannya adalah Karena praktik kenaikan kelas memperkuat orientasi motivasi eksternal. Artinya, saat murid bertambah usia, mereka terkungkung dalam penekanan pada tujuan naik kelas dan karenanya motivasi internalnya turun.



RESUME KE- 5 PSIKOLOGI PENDIDIKAN

Tes standar (Psikologi Pendidikan)

Tes standar atau tes yang dibakukan mengandung prosedur yang seragam untuk menentukan nilai dan administrasinya. Tes standar bisa membandingkan kemampuan murid dengan murid lain pada usia level yang sama , dan dalam banyak kasus perbandingan ini dilakukan di tingkat nasional. Apa bedanya tes standar dengan tes yang anda buat sendiri untuk menilai prestasi murid anda? Soal tes buatan guru cenderung difokuskan pada tujuan instruksional untuk kelas tertentu. Sedangkan tes standar mencakup berbagai materi yang lazimnya diajarkan di kebanyakan kelas (Airasian, 2001; Chatterji, 2003). Perbedaan lain antara tes standar dengan tes buatan guru adalah banyak tes standar yang memiliki aturan umum dan kebanyakan telah dievaluasi validitas dan realiabillitasnya. Kita akan mendiskusikan validitas dan reabilitas ini, tetapi pertama-tama mari kita bahas tujuan dari tes standar.

Tujuan tes standar

Tes standar biasanya bertujuan untuk:
·         Memberikan informasi tentang kemajuan murid. Tes standar adalah sumber informasi tentang seberapa tentang seberapa baik prestasi dan kemampuan murid.
·         Mendiagnosis kekuatan dan kelemahan murid. Tes standar juga dapat memberikan informasi tentang kekuatan dan kelemahan pembelajaran murid (Popham, 2002).
·         Memberikan bukti untuk penempatan murid dalam program khusus. Tes standar juga dapat dipakai untuk membuat keputusan tentang apakah murid diizinkan masuk ke program spesifik atau tdiak.
·         Memberikan informasi untuk merencanakan dan meningkatkan pengajaran atau instruksi. Bersama dengan informasi lain, nilai dari tes standar dapat dipakai oleh guru dalam membuat keputusan tentang instruksi.
·         Membantu administrator mengevaluasi program. Jika sekolah hendak beralih ke program pendidikan yang baru, administrasi sekolah harus tahu seberapa efektifkah program baru itu.
·         Memberikan akunbilitas. Sekolah dan guru diharapkan bertanggung jawab atas pengajaran muridnya.
Kriteria untuk mengevaluasi tes standar
Ø  Kelompok norma. Kelompok dari individu yang sama yang sebelumnya telah diberi ujian oleh penguji.
Ø  Validitas. Sejauh mana sebuah tes mengukur apa-apa yang hendak diukur hendak diukur dan apakah inferensi tentang nilai tes itu akurat atau tidak.
Ø  Reabilitas. Sejauh mana sebuah prosedur tes bisa menghasilkan nilai yang konsisten dan dapat direproduksi.
Ø  Keadilan. Tes yang adil adalah tes yang tidak bias (unbiased) dan tidak diskriminatif (McMillan, 2001).

Tes kecakapan dan prestasi

Ada dua tipe utama tes standar yaitu:
Ø  tes kecakapan. Tipe tes yang didesain guna memprediksi kemampuan murid untuk mempelajari suatu keahlian atau menguasai sesuatu dengan pendidikan dan training tingkat lanjut.
Ø  Tes prestasi. Tes yang dimaksudkan untuk mengukur apa yang telah dipelajari atau keahlian apa yang telah dikuasai.

Jenis-jenis prestasi standar

·         Survey batteries. Sebuah survey battery (baterai survei) adalah sekelompok tes pokok persoalan individual yang didesain untuk murid level tertentu. Survey batteries adalah standar nasional yang banyak digunakan (McMillan, 2001).
·         Tes untuk subjek spesifik. Beberapa tes prestasi standar dimaksudkan untuk menilai keahlian di bidang tertentu seperti membaca atau matematika. Karena tes ini difokuskan pada area spesifik, tes ini biasanya menilai suatu keahlian secara lebih mendetail dan ekstensif ketimbang survey battery.
·         Tes diagnostik. Terdiri dari evaluasi area pembelajaran spesifik secara relatif mendalam. Tujuannya adalah menentukan kebutuhan pembelajaran spesifik dari murid sehingga kebutuhan itu dapat dipenuhi melalui instruksi regular atau remedial.


RESUME KE-4 PSIKOLOGI PENDIDIKAN

PELAJAR YANG TIDAK BIASA

Siapakah anak yang menderita ketidakmampuan itu?
Dahulu istilah “ketidakmampuan” (disability) dan “cacat” (handicap) dapat dipakai bersama-sama, namun kini kedua istilah itu dibedakan. Disability adalah keterbatasan fungsi yang membatasi kemampuan seseorang. Handicap adalah kondisi yang dinisbahkan pada seseorang yang menderita ketidakmampuan. Kondisi ini boleh jadi disebabkan oleh masyarakat, lingkungan fisik, atau sikap orang itu sendiri (Lewis, 2002).
Para pendidik lebih sering menggunakan istilah “children with disabilities” (anak yang menderita gangguan/ketidakmampuan) ketimbang “disabled children” (anak cacat). Tujuannya adalah memberi penekanan pada anaknya, bukan pada cacat atau ketidakmampuannya. Anak-anak yang menderita ketidakmampuan juga tidak lagi disebut sebagai “handicapped” (penyandang cacat), walaupun istilah handicapping condition masih digunakan untuk mendeskripsikan hambatan belajar dan hambatan fungsi dari seseorang yang mengalami ketidakmampuan. Misalnya, ketika anak yang menggunakan kursi roda tidak memiliki akses yang memadai untuk ke kamar mandi, transportasi, dan sebagainya, maka ini disebut sebagai handicapping condition.
Kita akan mengelompokkan ketidakmampuan dan gangguan (disorder) sebagai berikut : gangguan organ indra (sensory), gangguan fisik, retardasi mental dan lain-lain.
Gangguan indra
Gangguan indra mencakup gangguan atau kerusakan penglihatan dan pendengaran.
ü  gangguan penglihatan. Beberapa murid mengalami problem penglihatan (visual) yang masih belum diperbaiki. Jika anda melihat murid anda sering memicingkan mata, membaca buku dari jarak yang amat dekat, sering mengucek-ucek mata, dan sering mengeluh karena pandangannya kabur atau suram, maka suruh mereka untuk memeriksakan diri (Boyles & Contadino, 1997).
ü  Gangguan pendengaran. Gangguan pendengaran dapat menyulitkan proses belajar anak.  Anak yang tuli secara lahir atau menderita tuli saat masih anak-anak biasanya lemah dalam kemampuan berbicara dan bahasanya. Dalam kelas anda mungkin ada anak yang menempelkan telinganya ke speaker, sering diminta pengulangan penjelasan, tidak mengikuti perintah, atau sering mengeluh sakit telinga, dingin, dan alergi, suruh mereka untuk memeriksakan diri ke ahli THT (Patterson & Wright, 1990).
Beberapa kemajuan medis dan teknologi, seperti yang disebutkan disini, juga telah meningkatkan kemampuan belajar anak yang menderita masalah pendengaran (Boyles & Contadino, 1997):
·         Pemasangan cochlear (dengan prosedur pembedahan). Ini adalah cara kontroversial karena banyak komunitas orang tuli menentangnya, sebab menganggapnya intrusive dan melukai kultur orang tuli. Yang lainnya beranggapan bahwa pemasangan cochlear ini bisa meningkatkan kualitas hidup banyak anak yang menderita problem pendengaran (Hallahan & Kauffman, 2003).
·         Menempatkan semacam alat di telinga (prosedur pembedahan untuk disfungsi telinga tingka menengah). Ini bukan prosedur permanen.
·         Sistem hearing aids dan amplifikasi.
·         Perangkat telekomunikasi, teletypewriter-telephone, dan RadioMail (menggunakan internet).

Gangguan fisik
Gangguan fisik anak antara lain adalah gangguan ortopedik, seperti gangguan karena cedera di otak (cerebral palsy), dan gangguan kejang-kejang (Seizure). Banyak anak yang mengalami gangguan fisik ini membutuhkan pendidikan khusus dan pelayanan khusus, seperti transportasi, terapi fisik, pelayanan kesehatan sekolah, dan pelayanan psikologi khusus.
ü  Gangguan ortopedik. Gangguan ortopedik biasanya berupa keterbatasan gerak atau kurang mampu mengontrol gerak karena ada masalah di otot, tulang, atau sendi. Tingkat keparahan gangguan ini bervariasi. Gangguan ortopedik bisa disebabkan oleh problem prenatal (dalam kandungan) aau perinatal (menjelang atau sesudah kelahiran), atau karena penyakit atau kecelakaan saat anak-anak. Dengan bantuan alat adaptif dan teknologi pengobatan, banyak anak yang menderita gangguan ortopedik bisa berfungsi normal di kelas (Boyles & Contadino, 1997). Cerebral palsy adalah gangguan yang berupa lemahnya koordinasi otot, tubuh sangat lemah dan goyah (shaking), atau bicaranya tidak jelas. Penyebab umum dari cerebral palsy adalah kekurangan oksigen saat kelahiran.
ü  Gangguan kejang-kejang. Jenis yang paling kerap dijumpai adalah epilepsy, gangguan saraf yang biasanya ditandai dengan serangan terhadap sensorimotor atau kejang-kejang. Epilepsy muncul dalam beberapa bentuk berbeda (Barr, 2000; Resag, 2002). Dalam bentuknya yang paling umum, yang dinamakan absent seizures, anak mengalami kejang-kejang dalam durasi singkat (kurang dari 30 detik), tetapi bisa terjadi beberapa kali sampai seratus kali dalam sehari. Sering -kali kemunculannya sangat singkat, atau kadang-kadang ditandai dengan gerakan tertentu seperti mengangkat alis mata. Dalam bentuk epilepsy lain yang disebut tonic-clonic, anak akan kehilangan kesadarannya dan menjadi kaku, gemetar, dan bertingkah aneh. Bila parah, tonic-clonic bisa berlangsung selama tiga sampai empat menit.

Retadarsi Mental
Makin banyak anak retardasi mental yang belajar di sekolah umum. Ciri utama retardasi mental adalah lemahnya fungsi intelektual (Zigler, 2002). Lama sebelum muncul  tes formal untuk menilai kecerdasan, orang dengan retardasi mental dianggap sebagai orang yang tidak dapat menguasai keahlian yang sesuai dengan umurnya dan tidak bisa merawat diri sendiri. Nilai tes kecerdasan dipakai untuk menunjukkan seberapa parahkah retardasi seseorang. Seorang anak mungkin mengalami retardasi ringan dan dapat belajar di kelas umum, atau mungkin parah dan tidak bisa belajar di kelas umum.
Retardasi mental adalah kondisi sebelum usia 18 tahun yang ditandai dengan rendahnya kecerdasan (biasanya nilai IQ nya di bawah 70) dan sulit beradaptasi dengan kehidupan sehari-hari. IQ rendah dan kemampuan beradaptasi yang rendah biasanya tampak sejak kanak-kanak, dan tidak tampak pada periode normal, dan keadaan retardasi ini bukan disebabkan oleh kecelakaan atau penyakit atau cedera otak.
Ø  Klasifikasi dan tipe retardasi mental. Ratardasi mental digolongkan menjadi retardasi ringan, moderat, berat, dan parah. Sekitar 85 persen murid dengan retardasi mental termasuk dalam kategori ringan (mild) (Shonkoff, 1996). Pada usia remaja akhir, individu dengan retardasi mental ringan dapat mengembangkan keahlian akademik yang setara dengan level grade enam (Terman, dkk., 1996). Pada masa dewasa, banyak yang bisa bekerja dan mencari nafkah sendiri dengan dukungan pengawasan atau dukungan kelompok. Individu dengan retardasi mental berat membutuhkan lebih banyak dukungan.
Ø   Penyebab. Retardasi mental disebabkan oleh factor genetic dan kerusakan otak (Dykens, Hodapp, & Finucane, 2000).
·         Faktor genetik. Bentuk yang paling umum dari retardasi mental adalah Down Syndrome (sindrom down) yang ditransmisikan (diwariskan) secara genetik. Anak dengan sindrom down ini punya kromosom lebih (kromosom ke-47). Wajahnya bulat, tengkorak yang datar, ada kelebihan lipatan kulit diatas alis, lidah panjang, kaki pendek, dan retardasi kemampuan motor dan mental.  Fragile X syndrome bentuk retardasi mental yang ditransmisikan secara genetik sebagai akibat dari kromosom X yang tidak normal.

·         Kerusakan otak. Kerusakan otak dapat diakibatkan oleh bermacam-macam infeksi atau karena factor lingkungan luar (Das, 2000). Infeksi pada ibu hamil, seperti rubelia (German measles), sipilis, herpes, dan AIDS, dapat menyebabkan retardasi pada diri anak. 

Sabtu, 08 April 2017

Testimoni Psikologi Pendidikan 1

   Nama Saya Zein Rena Sianturi (16-197).

   Terimakasih Kepada Ibu Dosen Psikologi USU yang mengajarkan mata kuliah Psikologi Pendidikan ini.

   Selama Saya belajar Psikologi Pendidikan di semester ini, Saya mendapatkan banyak hal, dan Saya juga mengerti banyak hal dalam sistem pendidikan yang belum terlalu Saya ketahui, seperti misalnya Saya jadi mengerti tentang apa itu Pendekatan Behavioral yang mana maksudnya pendekatan yang di dalamnya ada Pengkondisian Klasik yang artinya pembelajaran asosiatif.

   Saya juga bisa paham tentang Perencanaan Pelajaran Teacher – Centered yang dimana dalam perencanaan ini kita harus menciptakan sasaran behavioral, penganalisa tugas demikian bisa menyusun taksonomi instruksional. Kemudian tentang Perencanaan dan Instruksi Pelajaran Learner – Centered yang dimana prinsipnya itu adalah pada siswa bukan guru.

   Semoga kelak ilmu yang Saya dapat dari Psikologi Pendidikan ini bisa Saya terapkan suatu saat nanti.

   Terimakasih atas perhatiannya :)

Kamis, 06 April 2017

Resume ke-3 Psikologi Pendidikan

PERENCANAAN DAN INSTRUKSI PELAJARAN TEACHER - CENTERED & LEARNER - CENTERED

Perencanaan dan instruksi pelajaran teacher – centered.
Biasanya, fokus disekolah adalah pada perencanaan dan instruksi guru. Dalam pendekatan ini, perencanaan dan instruksi disusun dengan ketat dan guru mengarahkan pembelajaran murid.

Perencanaan pelajaran teacher – centered.
Tiga alat umum di sekolah yang berguna dalam perencanaan teacher – centered adalah menciptakan sasaran behavioral (perilaku), menganalisis tugas, dan menyusun taksonomi (klasifikasi) instruksional.
Menciptakan sasaran behavioral. Sasaran behavioral (behavioral objectives) adalah pernyataan tentang perubahan yang diharapkan oleh guru akan terjadi dalam kinerja murid. Menurut Robert mager (1962), sasaran behavioral harus spesifik. Mager percaya bahwa sasaran behavioral harus mengandung tiga bagian :
Perilaku murid. Focus pada apa yang akan dipelajari atau dilakukan murid.
Kondisi dimana perilaku terjadi. Menyatakan bagaimana perilaku akan di evaluasi atau dites.
Kriteria kinerja. Menentukan level kinerja yang dapat diterima.

Menganalis tugas. Alat lain dalam perencanaan teacher – centered adalah analisis tugas, yang difokuskan pada pemecahan suatu tugas kompleks yang dipelajari murid menjadi komponen – komponen (Alberto & Troutman, 1999). Analisis ini dapat melalui tiga langkah dasar (Moyer & Dardig, 1978) :
1. Menentukan keahlian atau konsep yang diperlukan murid untuk mempelajari tugas.
2. Mendaftar materi yang dibutuhkan untuk melakukan tugas, seperti kertas, pensil, kalkulator, dan sebagainya.
3. Mendaftar semua komponen tugas yang harus dilakukan.


Menyusun taksonomi instruksional. Taksonomi instruksional juga membantu pendekatan teacher – centered. Taksonomi adalah system klasifikasi. Taksonomi bloom dikembangkan oleh Benjamin Bloom dan kawan – kawannya (1956). Taksonomi ini mengklasifikasikan sasaran pendidikan menjadi tiga domain : kognitif, afektif, dan psikocmotor.
Domain kognitif. Taksonomi kognitif mengandung enam sasaran (Bloom dkk, 1956):
Pengetahuan. Murid punya kemampuan untuk mengingat informasi
Pemahaman. Murid memahami informasi dan dapat menerangkannya dengan menggunakan kalimat mereka sendiri.
Aplikasi. Murid menggunakan pengetahuan untuk memecahkan problem kehidupan nyata.
Analisis. Murid memecahkan informasi yang kompleks menjadi bagian kecil – kecil dan mengaitkan informasi dengan informasi lain.
Sintesis. Murid mengombinasikan elemen – elemen dan menciptakan informasi baru.
Evaluasi. Murid membuat penilaian dan keputusan yang baik.

Domain afektif. Taksonomi afektif terdiri dari lima sasaaran yang berhubungan dengan respons emosional terhadap tugas (Krathwohl, Bloom, & Masia, 1964). Masing – masing dari lima sasaran itu mensyaratkan agar murid menunjukkan tingkat komitmen atau intensitas emosional tertentu :
Penerimaan. Murid mengetahui atau memerhatikan sesuatu di lingkungan.
Respons. Murid termotivasi untuk belajar dan menunjukan perilaku baru sebagai hasil dari pengalamannya.
Menghargai. Murid terlibat atau berkomitmen pada beberapa pengalaman.
Pengorganisasian. Murid mengintegrasikan nilai baru ke perangkat nilai yang sudah ada dan memberi prioritas yang tepat.
Menghargai karakterisasi. Murid bertindak sesuai dengan nilai tersebut dan berkomitmennya kepada nilai tersebut.

Domain psikomotor. Kebanyakan dari kita menghubungkan aktivitas motor dengan pendidikan fisik dan atletik, tetapi banyak subjek lain, seperti menulis dengan tangan dan pengolahan kata, juga membutuhkan gerakan. Dalam sains, murid harus menggunakan peralatan yang kompleks; seni visual dan pahat membutuhkan koordinasi mata dan tangang. Sasaran psikomotor menurut Bloom adalah :
Gerak reflex. Murid merespons suatu stimulus secara reflex tanpa perlu banyak berpikir.
Gerak fundamental. Murid melakukan gerakan dasar untuk tujuan tertentu.
Kemampuan perseptual. Murid menggunakan indra seperti penglihatan, pendengaran, atau sentuhan, untuk melakukan sesuatu.
Kemampuan fisik. Murid mengembangkan daya tahan, kekuatan, fleksibilitas, dan kegesitan.
Gerakan terlatih. Murid melakukan keterampilan fisik yang kompleks dengan lancar.
Perilaku nondiskusif. Murid mengkomunikasikan perasaan dan emosinya melalui gerak tubuh.

Instruksi langsung.
Instruksi langsung (direct instruction) adalah pendekatan teacher – centered yang terstruktur yang dicirikan oleh arahan dan control guru, ekspetasi guru yang tinggi atas kemajuan murid, maksimalisasi waktu yang dihabiskan murid untuk tugas – tugas akademik, dan usaha oleh guru untuk meminimalkan pengaruh negative terhadap murid (Joyce & Weil, 1996). Focus instruksi langsung adalah aktivitas akademik; materi non – akademik (seperti mainan, game, dan teka teki) cenderung tidak dipakai; interaksi murid – guru (seperti percakapan atau perhatian tentang diri atau pribadi) juga tidak begitu ditekankan. Tujuan penting dari instruksi langsung adalah memaksimalkan waktu belajar murid (Stevenson, 2000). Waktu yang dipakai murid pada tugas – tugas akademik dikelas dinamakan waktu pembelajaran akademik. Pembelajaran membutuhkan waktu. Semakin banyak waktu pembelajaran murid, semakin besar kemungkinan menyatakan bahwa cara terbaik untuk memaksimalkan tugas akademik adalah menciptakan lingkungan belajar yang beriorientasi akademik secara terstruktur. Kotak Diversity & Education berikut ini mendeskripsikan riset lintas – kultural tentang jumlah waktu yang dipakai murid untuk mempelajari matematika di beberapa negara, dan juga memamparkan perbandingan antarnegara.

Strategi instruksional teacher – centered

Mengorietasikan. Sebelum menyajikan dan menjelaskan materi baru, susunlah kerangka pelajaran dan orientasikan murid ke materi baru tersebut (Joyce & Weil, 1996): (1) review aktifitas sehari sebelumnya; (2) diskusikan sasaran pelajaran; (3) beri instruksi yang jelas dan eksplisit tentang tugas yang harus dilakukan; dan (4) beri ulasan atas pelajaran untuk hari ini. Orientasi dan strukturisasi pada awal pelajaran ini memengaruhi perbaikan prestasi murid (Fisher dkk, 1980).

Advance organizer. Adalah aktivitas dan teknik pengajaran dengan membuat kerangka pelajaran dan mengorientasikan murid pada materi sebelum materi itu diajarkan (Ausubel, 1960). Terdiri dari dua bentuk, yaitu Expository advance organizer memberi murid pengetahuan baru yang akan mengorientasikan mereka ke pelajaran yang akan dating. Cara lainnya adalah mendeskripsikan tema pelajaran dan mengapa tema itu penting untuk mempelajari suatu topik.

Comparative advance organizer. Memperkenalkan materi baru dengan mengaitkannya dengan apa yang sudah diketahui murid.

Pengajaran, penjelasan, dan demonstrasi. Pengajaran dengan paparan / ceramah (lecturing), penjelasan dan demonstrasi adalah aktivitas yang biasa dilakukan guru dalam pendekatan instruksi langsung. Periset telah menemukan bahwa guru yang efektif menghabiskan lebih banyak waktu untuk menerangkan dan mendemonstrasikan materi baru (Rosenshine, 1985).

Pertanyaan dan diskusi. Diskusi dan pertanyaan perlu diintegrasikan ke dalam pendekatan instruksi teacher – centered (Weinstein, 1997). Dalam menggunakan strategi ini, adalah penting untuk merespons setiap kebutuhan pembelajaran murid sembari menjaga minat dan perhatian kelompok. Juga, penting untuk mendistribusikan partisipasi luas sembari mempertahankan semangat belajar. Tantangan lainnya adalah mengajak murid memberi konstribusi sambil mempertahankan focus pada pelajaran  lainnya.

Mastery learning (pembelajaran penguasaan materi). Mastery learning adalah pembelajaran satu konsep atau topic secara menyeluruh sebelum pindah ke topic yang lebih sulit. Pendekatan pembelajaran penguasaan materi yang baik harus mengikuti prosedur sebagai berikut (Bloom, 1971; Caroll, 1963):
Menyebutkan tugas atau pelajaran .
Bagilah pelajaran menjadi unit – unit pembelajaran yang berhubungan dengan sasaran instruksional.
Rancanglah prosedur instruksional dengan memasukkan umpan balik korektif kemurid jika mereka gagal menguasai materi pada level yang dapat diterima, misalnya 90 persen benar.
Beri tes pada akhir unit pelajaran dan akhir pelajaran untuk mengevaluasi apakah murid sudah menguasai semua materi pada level yang dapat diterima.

Seatwork. Seatwork (“tugas dibangku kelas”) adalah menyuruh semua murid atau sebagian besar murid untuk belajar sendiri – sendiri di bangku mereka. Guru berbeda – beda dala menggunakan pendekatan ini. Beberapa guru menggunakannya setiap hari.

Pekerjaan rumah. Keputusan instruksional penting lainnya adalah seberapa banyak dan apa jenis pekerjaan rumah yang harus diberikan kepada murid. Dalam riset lintas – kultural yang didiskusikan di atas, yang difokuskan kepada murid asia dan amerika, dilakukan penilaian terhadap waktu yang dihabiskan untuk pekerjaan rumah ( Chen & Stevenson, 1989).

Mengevaluasi instruksi teacher – centered.
Riset terhadap  instruksi teacher – centered telah memberikan banyak saran berharga untuk pengajaran, antara lain:
Jadilah perencana yang rapi dan ciptakan sasaran instruksional
Selalu berharap agar murid mendapatkan kemajuan dan memastikan agar murid mendapat waktu pembelajaran akademik yang memadai.
Luangkan waktu untuk memberikan orientasi pelajaran.
Gunakan metode lecturing, penjelasan dan demonstrasi guna membantu beberapa aspek dari pembelajaran murid.
Libatkan murid dalam pembelajaran dengan mengembangkan keterampilan mengajuka pertanyaan yang baik dan meminta mereka ikut dalam diskusi kelas.
Suruh murid mengerjakan seatwork atau tugas lainnya dan gunakan instruksi tersendiri untuk murid tertentu atau kelompok kecil tertentu.
Beri pekerjaan rumah kepada murid untuk meningkatkan waktu pembelajaran akademik dan libatkan orang tua untuk membantu pembelajaran anak.

Perencanaan dan instruksi pelajaran learned – centered.

Prinsip learned – centered.
Instruksi dan perencanaan learned –centered adalah pada siswa, bukan guru. Dalam sebuah studi, persepsi murid terhadap lingkungan pembelajaran yang positif dan hubungan interpersonal dengan guru merupakan factor paling penting yang memperkuat motivasi dan prestasi murid (McCombs, 2001 ; McCombs & Quiat,  2001).
Meningkatnya minat terhadap prinsip learner – centered dalam perencanaan dan instruksi ini telah menghasilkan satu set pedoman yang diberi judul learner – centered psychological principles : A Framework for School Reform and Redesign (Pesidential task force on psychology in education, 1992; work of the American association’s board of affairs, 1995; learner – centered principles work group, 1997). Pedoman ini disusun dan direvisi secara periodic oleh sekelompok ilmuwan dan pendidik ternama dari berbagai bidang ilmu. Prinsip – prinsip ini mengandung implikasi penting bagi cara guru merancang dan mengajar, karena prinsip – prinsip tersebut didasarkan pada riset tentang cara belajar paling efektif bagi murid.
Learned – centered principles work group (1997) percaya bahwa selama decade yang lalu riset psikologi yang relevan dengan pendidikan telah memberikan banyak informasi, dan meningkatkan pemahaman kita tentang aspek kognitif, emosional dan kontekstual dari pembelajaran. Kelompok kerja ini menyatakan bahwa prinsip psikologi learner – centered yang mereka usulkan telah didukung secara luas dan semakin banyak diadopsi di banyak kelas. Prinsip ini menekankan pembelajaran dan pelajar yang aktif dan reflektif. Menurut kelompok kerja ini, pendidikan akan lebih baik apabila focus utamanya adalah pada orang yang belajar (learner).
Prinsip learner – centered yang dikembangkan oleh gugus tugas American psychological association (APA) dapat diklasifikasikan berdasarkan empat factor : kognitif dan metakognitif, motivasional dan emosional, perkembangan dan sosial, dan perbedaan individual

Factor kognitif dan metakognitif
Ada enam prinsip :
1. Sifat proses pembelajaran. Pembelajaran subjek materi yang kompleks akan sangat efektif jka dilakukan dengan melalui proses pengkonstruksian makna dari informasi dan pengalaman.
2. Tujuan proses pembelajaran. Pelajar yang sukses, dengan bantuan dan pedoman instruksional, dapat menciptakan representasi pengetahuan yang bermakna dan koheren.
3. Konstruksi pengetahuan. Pelajar yang sukses bias menghubungkan informasi baru dengan pengetahuan yang sudah dimilikinya dengan cara yang mengandung makna tertentu.
4. Pemikiran strategis. Pelajar yang sukses dapat menciptakan dan menggunakan berbagai strategi pemikiran dan penalaran untuk mencapai tujuan pembelajaran.
5. Memikirkan tentang pemikiran (metakognisi). Pelajar yang sukses adalah pelajar metakognitif. Mereak merenungkan cara mereka belajar dan berpikir, menentukan tujuan pembelajaran yang reasonable, memilih strategi yang tepat, dan memantau kemajuan mereka menuju tujuan pembelajaran.
6. Konteks pembelajaran. Pembelajaran tidak terjadi di ruang hampa. Pembelajaran dipengaruhi oleh factor – factor lingkungan seperti kultur, teknologi, dan praktik instruksional. Guru memainkan peran penting dalam pembelajaran anak.

Factor motivasi dan emosional.
Ada dua prinsip yaitu :
1. Pengaruh motivasi dan emosi terhadap pembelajaran. Apa dan seberapa banyak hal – hal yang dipelajari akan dipengaruhi oleh motivasi pelajar. Keyakinan dan ekspetasi pelajar dapat memperkuat atau melemahkan kualitas pemikiran dan pemrosesan informasi pelajar. Emosi positif, seperti rasa ingin tahu, biasanya akan membantu memperlancar proses belajar. Namun emosi negative yang parah, seperti kecemasan yang besar, panic, kemarahan, dan pemikiran yang terkait dengan emosi negative, seperti takut berlebihan, takut gagal, dan takut hukuman, dapat melemahkan pembelajaran.
2. Motivasi intrinsik untuk belajar. Motivasi intrinsik adalah motivasi dari diri sendiri (self – determined). Rasa ingin tahu, pemikiran mendalam, dan kreativitas adalah indicator yang baik dari motivasi instrinsik anak untuk belajar.
3. Efek motivasi terhadap usaha. Usaha adalah aspek penting dari motivasi untuk belajar. Pembelajaran yang efektif membutuhkan banyak waktu, energy dan ketekunan.

Factor sosial dan developmental.

Mendasari dua prinsip learner – centered.
1. Pengaruh perkembangan pada pembelajaran. Individu akan belajar dengan baik apabila pembelajarannya sesuai dengan tingkat perkembangan anak. Karena perkembangan fisik, kognitif dan domain sosioemotional individu itu bervariasi, maka prestasi dalam domain ini juga bervariasi.
2. Pengaruh sosial terhadap pembelajaran. Pembelajaran dipengaruhi oleh interaksi sosial, hubungan interpersonal, dan komunikasi dengan orang lain.

Factor perbedaan individual.
1. Perbedaan individual dalam pembelajaran. Perbedaan ini adalah akibat dari pengalaman dan hereditas (heredity). Anak dilahirkan dengan kemampuan dan bakat yang bisan dikembangkan. Dan, melalui pengalaman, mereka akan memilih sendiri cara untuk belajar dan langkah yang diambil dalam belajar.
2. Pembelajaran dan diversitas. Akan lebih efektif jika perbedaan bahasa, kultural, dan latar belakang sosial murid ikut dipertimbangkan. Prinsip dasar yang sama dari pembelajaran, motivasi, dan instruksi berlaku untuk semua anak.
3. Standar dan penilaian. Menentukan standar yang tinggi dan menantang, dan menilai kemajuan pembelajaran dan siswa, adalah bagian integral dari proses pembelajaran.

Sabtu, 04 Maret 2017

Resume ke-1 Psikologi Pendidikan



Kelompok 2 Psikologi Pendidikan
Ester Siringoringo             (16-194)
Zein Rena sianturi             (16-197)
Cindy Florentina                 (16-205)
Nora Baringbing                 (16-217)
Wasimag Taqiyyah                        (16-226)
Irma H S Nainggolan         (16-228)
Winia Lestari                        (16-235)

Pandangan dan Penilaian Kewajiban Setiap Mahasiswa yang Mengikuti Matakuliah Psikologi Pendidikan Harus Memiliki Email dan Blog Jika Ditinjau dari Uraian Psikologi Pendidikan dan Fenomena Pendidikan di Indonesia Khususnya Kota Medan

Pendidikan merupakan hal yang terpenting dalam kehidupan kita,ini berarti bahwa setiap manusia berhak mendapat dan berharap untuk selalu berkembang dalam pendidikan. Pendidikan secara umum mempunyai arti suatu proses kehidupan dalam mengembangkan diri tiap individu untuk dapat hidup dan melangsungkan kehidupan. Sehingga menjadi seorang yang terdidik itu sangat penting. Pendidikan pertama kali yang kita dapatkan di lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat.
                                                                                                              
A.    Fenomena Pendidikan di Kota Medan
Pendidikan mempunyai tugas menyiapkan sumber daya manusia untuk pembangunan. Derap langkah pembangunan selalu diupayakan seirama dengan tuntutan zaman. Perkembangan zaman selalu memunculkan persoalan-persoalan baru yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.
Mengenai masalah pedidikan, perhatian pemerintah kita masih terasa sangat minim. Gambaran ini tercermin dari beragamnya masalah pendidikan yang makin rumit. Kualitas siswa masih rendah, pengajar kurang profesional, biaya pendidikan yang mahal, bahkan aturan UU pendidikan kacau. Dampak dari pendidikan yang buruk itu, negeri kita kedepannya makin terpuruk. Keterpurukan ini dapat juga akibat dari kecilnya rata-rata alokasi anggaran pendidikan baik di tingkat nasional, propinsi, maupun kota dan kabupaten.
           
Khususnya di kota Medan sendiri masih banyak fenomena pendidikan yang buruk. Banyak  sekali problematika pendidikan  yang terjadi. Beberapa masalah pendidikan yang terjadi di kota Medan salah satunya kelompok kami mengambil dari Tribun-News.com membahas  Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPj) akhir tahun anggaran 2014. Dari koran online tersebut kami mendapatkan informasi bahwa Pemko Medan menghasilkan sejumlah rapor merah.
Dalam urusan pendidikan, tercatat bahwa penyebaran tenaga pendidik masih terpusat di inti kota."Banyak sekolah yang berada di kawasan Medan bagian utara tidak memiliki tenaga pendidik yang kompeten dan mayoritas hanya tenaga honorer," kata T Bahrumsyah, Ketua Pansus LKPj, membacakan hasil pembahasan, dalam Rapat paripurna penyampaian laporan Panitia Khusus (Pansus) mengenai hasil pembahasan Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPj) akhir tahun anggaran 2014, di ruang rapat paripurna DPRD Medan, Senin (27/4/2015).
Selain itu, tercatat juga bahwa belum ada data yang akurat terkait siswa yang kurang mampu di Kota Medan."Sehingga masih banyak terjadi pemberian bantuan yang tidak tepat sasaran di sejumlah sekolah. Baik itu swasta maupun negeri," kata Bahrum.
Selanjutnya, kepala sekolah di Kota Medan banyak yang belum memiliki kompetensi di bidang manajerial yang mengakibatkan sering terjadi persoalan terkait pengelolaan dana Bantuan Operasional Siswa (BOS) maupun konflik internal dengan tenaga pendidik.DPRD Medan memberikan saran agar dibuat Peraturan Daerah (Perda) yang mengatur pendidikan di Kota Medan.Dari data tersebut dapat kita simpulkan bahwa memang fenomena pendidikan di kota Medan masih sangat buruk.


















B.    Pandangan Psikologi Pendidikan Terhadap Teknologi
Psikologi pendidikan adalah cabang ilmu psikologi yang mengkhususkan diri pada cara memahami pengajaran dan pembelajaran dalam lingkungan pendidikan. Pengajaran adalah proses pendidikan yang sebelumnya direncanakan untuk mencapai tujuan serta dirancang untuk mempermudah belajar. Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dan sumber belajar pada suatu tingkatan belajar.
Psikologi pendidikan didirikan oleh beberapa perintis bidang psikologi sebelum abad ke-20. Ada tiga perintis terkemuka yang muncul di awal sejarah psikologi pendidikan seperti, William James, John Dewey, dan E. L. Thorndike.
  1. William james
Tidak lama setelah meluncurksn buku ajar psikologinya yang pertama, principles of psychology (1890), William james (1842-1910) memberikan serangkaian kuliah yang bertajuk “Talks to Teacher” (James, 1899/1993). Dalam kuliah ini dia mendiskusikan aplikasi psikologi untuk mendidik anak. James mengatakan bahwa eksperimen psikologi di laboratorium sering kali tidak bisa menjelaskan kepada kita bagaimana cara mengajar anak secara efektif. Dia menegaskan bahwa pentingnya mempelajari proses belajar dan mengajar didalam kelas guna meningkatkan mutu pendidikan. Salah satu rekomendasinya adalah mulai mengajar pada titik yang sedikit lebih tinggi di atas satu tingkat pengetahuan dan pemahaman anak dengan tujuan untuk memperluas cakrawala pemikiran anak.
    2. John Dewey.
John dewey merupakan tokoh kedua yang berperan besar dalam membentuk psikologi pendidikan (1859- 1952). Dia menjadi motor penggerak untuk mengaplikasikan psikologi di tingkat praktis. Dia juga membangun sebuah labolatorium psikologi pendidikan pertama di Amerika Serikat, universitas Chicago, tahun 1894. Kemudian, di Columbia University, dia melanjutkan kary inovatifnya tersebut. Kita banyak mendapat ide penting dari John Dewey(Glassman, 2001,2002). Pertama, dari dewey kita mendapatkan pandangan tentang anak sebagai pembelajar aktif (active learner). Sebelum dewey mengemukakan pandangan ini, ada keyakinan bahwa anak – anak mestinya duduk diam dikursi mereka dan mendengarkan pelajaran secara pasif dan sopan. Sebaliknya, dewey percaya bahwa anak – anak akan belajar dengan lebih baik jika mereka aktif. Kedua, dari dewey kita mendapatkan ide bahwa pendidikan seharusnya difokuskan pada anak secara keseluruhan dan memperkuat kemampuan anak untuk beradaptasi dengan lingkungannya. Dewey percaya bahwa anak – anak seharusnya tidak hanya mendapat pelajaran akademik saja, tetapi juga harus diajari cara untuk berpikir dan beradaptasi dengan dunia di luar sekolah. Dia secara khusus berpendapat bahwa anak – anak harus belajar agar mampu memecahkan masalah secara reflektif. Ketiga, kita mendapatkan gagasan bahwa semua anak berhak mendapatkan pendidikan yang selayaknya. Cita – cita demokratis ini pada masa pertengahan abad ke -19 belum muncul., sebab saat itu pendidikan hanya diberikan pada sebagian anak, terutama anak keluarga kaya. Dewey adalah salah satu seorang psikolog yang sangat berpengaruh. Seorang pendidik yang mendukung pendidikan yang layak bagi semua anak, lelaki maupun perempuan, dari semua lapisan social ekonomi dan etnis.


 3. E.L.Thorndike.
E.L.Thorndike merupakan perintis ketiga (1874-1949) yang memberi banyak perhatian pada penilaian dan pengukuran dan perbaikan dasar – dasar belajar secara ilmiah. Thorndike berpendapat bahwa salah satu tugas pendidikan di sekolah yang paling penting adalah menanamkan keahlian penalaran anak. Thorndike sangat ahli dalam melakukan studi belajar dan mengajar secara ilmiah (Beatty,1998). Thorndike mengajukan gagasan bahwa psikologi pendidikan harus punya basis ilmiah dan harus berfokus pada pengukuran (O’Donnell& Levin, 2001).

Diversitas dan psikologi pendidikan awal.
Tokoh yang paling menonjol dalam sejarah awal psikologi peendidikan kebanyakan adalah pria berkulit putih, seperti james, dewey, dan thorndike. Sebelum adanya perubahan undang – undang dan kebijakan hak- hak sipil pada 1960-an, hanya segelintir tokoh non kulit putih yang berhasil mendapat gelar dan bisa menembus rintangan diskriminasi rasial untuk melakukan riset di bidang ini (Banks,1998). Dua tokoh Amerika keturunan Afrika yang menonjol di bidang psikologi adalah Mamie dan Kenneth Clark, yang melakukan riset tentang identitas dan konsep diri anak-anak Afrika Amerika.pada tahun 1971, Kenneth Clark menjadi orang Afrika-Amerika pertama yang menjadi presiden American Psychological Assosiation. Pada tahun 1932, seorang psikolog dari Negara Latin, George Sanchez melakukan riset yang menunjukkan bahwa tes kecerdasan secara kultural telah dibiaskan dan merugikan anak – anak etnisminoritas.
CARA MENGEJAR YANG EFEKTIF.
·         Pengetahuan dan keahlian professional.
·         Penguasaan materi pelajaran.
·         Strategi pengajaran.
·         Penetapan tujuan dan keahlian perencanaan intruksional.
·         Keahlian manajemen kelas.
·         Keahlian motivasional.
·         Keahlian komunikasi.
·         Bekerja secara efektif dengan murid dari latar belakang kultural yang berlainan.

Keahlian teknologi
Teknologi itu sendiri tidak selalu meningkatkan kemampuan belajar murid. Dibutuhkan syarat atau kondisi lain untuk menciptakan lingkungan belajar yang mendukung proses belajar murid (Earle,2002;Sharp, 2002). Kondisi – kondisi ini antara lain (International society for technology in education, 2001): visi dan dukungan dari tokoh pendidikan guru yang menguasai teknologi untuk pengajaran, standard dan isi kurikulum, penilaian efektivitas teknologi untuk pembelajaran, dan memandang anak sebagai pembelajar yang aktif dan konstruktif. Guru yang efektif mengembangkan keahlian teknologi dan mengintegrasikan computer ke dalam proses belajar di kelas (Male,2003). Integrasi ini harus disesuaikan dengan kebutuhan belajar murid, termasuk kebutuhan mempersiapkan murid untuk mencari pekerjaan di masa depan, yang akan sangat membutuhkan keahlian teknologi dan keahlian berbasis computer ( Maney,1990).

Guru yang efektif tahu cara menggunakan computer dan cara mengajar murid untuk menggunakan computer untuk menulis dan berkreasi. Guru yang efektif bisa mengevaluasi efektivitas game intruksional simulasi computer, tahu cara menggunakan dan mengajari murid untuk menggunakan alat komunikasi melalui computer seperti internet. Dan, guru yang efektif memahami dengan baik berbagai perangkat penting lainnya untuk mendukung pembelajaran murid yang cacat.National educational technology standarts (NETS) didirikan oleh international society for technology in education(ISTE) ( 2000,2001). NETS sedang mengembangkan:
·         Standar landasan teknologi untuk murid, yang mendeskripsikan apa yang harus diketahui oleh murid tentang teknologi dan tentang apa yang dapat dilakukan dengan teknologi tersebut.
·         Standar pengunaan teknologi dalam proses belajar mengajar, yang mendeskripsikan bagimana teknologi harus dipakai dalam kurikulum untuk mengajar, belajar, dan manajemen instruksional.
·         Standar pendukung teknologi pendidikan, yang mendeskripsikan sistem, akses, pengembangan staf, dan perangkat pendukung yang dibutuhkan untuk memanfaatkan teknologi secara efektif.
·         Standar untuk penilaian murid dan evaluasi penggunaan teknologi, yang mendeskripsikan beragam cara untuk menilai kemajuan murid dan mengevaluasi penggunaan teknologi dalam proses belajar.
Teknologi dapat sangat efektif untuk mengajar. Misalnya, seorang murid ingin mencari informasi tentang pahlawan – pahlawan pendidikan di Indonesia. Mereka tentu tidak mungkin mencarinya dengan mendatangi sanak saudara dari pahlawan tersebut. Hanya dengan mengetik kata kunci yang ingin di cari pada internet, maka hanya dalam waktu beberapa detik, informasi yang kita butuhkan akan kita dapat.









C.    Teknologi Mempermudah Dunia Pendidikan
Pengaruh globalisasi juga memiliki dampak yang positif terhadap kemajuan pendidikan di Indonesia salah satunya kemajuan teknologi yang memberikan kemudahan bagi tenaga pendidik dan anak-anak yang sedang menempuh pendidikan,terutama mahasiswa.
            Seperti yang kita ketahui akhir-akhir ini penggunaan teknologi mampu mempermudah urusan kita terutama di bidang pendidikan,salah satu contohnya email dan blog. Kegunaaan blog adalah sebagai media untuk menyampaikan informasi. Baik yang sifatnya pribadi, misalnya catatan harian, ataupun bisa juga digunakan untuk promosi.
Blog juga dapat digunakan untuk menarik minat. Tujuannya adalah menarik orang untuk menuliskan pengalamannya. Namun, penggunaan blog di Indonesia masih terbatas. Masih belum maksimal.Blog yang baik sebenarnya bisa menimbulkan inspirasi bagi pembacanya. Muatan tulisan yang baik tentu bisa memberikan efek baik pula. Contohnya adalah nasihat atau pengalaman berharga.Melalui blog, kita juga bisa menjaring network, terutama dengan orang-orang yang punya ketertarikan dan hobi yang sama. Dari situ kita bisa bertukar pengalaman dan informasi.
Begitu juga dengan email yang juga mempunyai fungsi sebagai sarana untuk mengirimkan atau menerima surat, dan data yang bisa dilampirkan dalam surat tersebut. Datanya pun berupa data digital bukan berkas nyata. Data yang bisa dikirim lewat email diantaranya, data ketikan, musik, video, gambar, program aplikasi,dan data-data elektronik lainnya.Selain itu email juga manfaatnya untuk mendaftarkan diri pada situs-situs lain, baik itu situs jejaring sosial, bisnis online dll.











D.Kesimpulan
Jika dilihat dan ditinjau dari pemaparan diatas maka pandangan dan penilaian kelompok kami tentang “kewajiban mahasiswa yang mengikuti matakuliah psikologi pendidikan harus memiliki blog dan email  adalah:
Ø Mahasiswa semester demi semester melewati dengan berbagai macam tugas. Namun, untuk mempermudah pengumpulan tugas, mahasiswa yang mengikuti matakuliah psikologi pendidikan dapat menggunakan email sebagai sarana pengiriman data tugas.
Ø Dalam penggunaan blog, mahasiswa yang mengikuti matakuliah psikologi pendidikan dapat meresume materi yang telah dibahas dengan alasan bahwa mahasiswa telah mampu menguasai materi yang diajarkan.
Ø Blog juga bermanfaat dalam mengatasi masalah fenomena pendidikan di kota Medan yang masih jauh dari kata baik. Setiap tenaga pendidik dapat menggunakan sarana blog untuk berbagi informasi dengan tenaga pendidik lainnya. Terutama tenaga pendidik yang berada di daerah terpencil.

Ø Pihak pemerintahan kota Medan,terutama yang menangani bidang pendidikan harus menggunakan teknologi untuk memberikan informasi kepada seluruh tenaga pendidik dan peserta didik,agar dapat diterima informasi yang disampaikan dengan baik.