PELAJAR YANG TIDAK BIASA
Siapakah anak yang menderita ketidakmampuan itu?
Siapakah anak yang menderita ketidakmampuan itu?
Dahulu istilah “ketidakmampuan” (disability) dan “cacat”
(handicap) dapat dipakai bersama-sama, namun kini kedua istilah itu dibedakan.
Disability adalah keterbatasan fungsi yang membatasi kemampuan seseorang.
Handicap adalah kondisi yang dinisbahkan pada seseorang yang menderita
ketidakmampuan. Kondisi ini boleh jadi disebabkan oleh masyarakat, lingkungan
fisik, atau sikap orang itu sendiri (Lewis, 2002).
Para pendidik lebih sering menggunakan istilah “children
with disabilities” (anak yang menderita gangguan/ketidakmampuan) ketimbang
“disabled children” (anak cacat). Tujuannya adalah memberi penekanan pada
anaknya, bukan pada cacat atau ketidakmampuannya. Anak-anak yang menderita ketidakmampuan
juga tidak lagi disebut sebagai “handicapped” (penyandang cacat), walaupun
istilah handicapping condition masih digunakan untuk mendeskripsikan hambatan
belajar dan hambatan fungsi dari seseorang yang mengalami ketidakmampuan.
Misalnya, ketika anak yang menggunakan kursi roda tidak memiliki akses yang
memadai untuk ke kamar mandi, transportasi, dan sebagainya, maka ini disebut
sebagai handicapping condition.
Kita akan mengelompokkan ketidakmampuan dan gangguan
(disorder) sebagai berikut : gangguan organ indra (sensory), gangguan fisik,
retardasi mental dan lain-lain.
Gangguan indra
Gangguan indra mencakup gangguan atau kerusakan penglihatan
dan pendengaran.
ü
gangguan penglihatan. Beberapa murid mengalami problem
penglihatan (visual) yang masih belum diperbaiki. Jika anda melihat murid anda
sering memicingkan mata, membaca buku dari jarak yang amat dekat, sering
mengucek-ucek mata, dan sering mengeluh karena pandangannya kabur atau suram,
maka suruh mereka untuk memeriksakan diri (Boyles & Contadino, 1997).
ü
Gangguan pendengaran. Gangguan pendengaran dapat
menyulitkan proses belajar anak. Anak
yang tuli secara lahir atau menderita tuli saat masih anak-anak biasanya lemah
dalam kemampuan berbicara dan bahasanya. Dalam kelas anda mungkin ada anak yang
menempelkan telinganya ke speaker, sering diminta pengulangan penjelasan, tidak
mengikuti perintah, atau sering mengeluh sakit telinga, dingin, dan alergi,
suruh mereka untuk memeriksakan diri ke ahli THT (Patterson & Wright,
1990).
Beberapa kemajuan medis dan teknologi,
seperti yang disebutkan disini, juga telah meningkatkan kemampuan belajar anak
yang menderita masalah pendengaran (Boyles & Contadino, 1997):
·
Pemasangan cochlear (dengan prosedur
pembedahan). Ini adalah cara kontroversial karena banyak komunitas orang tuli
menentangnya, sebab menganggapnya intrusive dan melukai kultur orang tuli. Yang
lainnya beranggapan bahwa pemasangan cochlear ini bisa meningkatkan kualitas
hidup banyak anak yang menderita problem pendengaran (Hallahan & Kauffman,
2003).
·
Menempatkan semacam alat di telinga (prosedur
pembedahan untuk disfungsi telinga tingka menengah). Ini bukan prosedur
permanen.
·
Sistem hearing aids dan amplifikasi.
·
Perangkat telekomunikasi,
teletypewriter-telephone, dan RadioMail (menggunakan internet).
Gangguan fisik
Gangguan fisik anak antara lain adalah gangguan ortopedik,
seperti gangguan karena cedera di otak (cerebral palsy), dan gangguan
kejang-kejang (Seizure). Banyak anak yang mengalami gangguan fisik ini
membutuhkan pendidikan khusus dan pelayanan khusus, seperti transportasi,
terapi fisik, pelayanan kesehatan sekolah, dan pelayanan psikologi khusus.
ü Gangguan ortopedik. Gangguan ortopedik biasanya
berupa keterbatasan gerak atau kurang mampu mengontrol gerak karena ada masalah
di otot, tulang, atau sendi. Tingkat keparahan gangguan ini bervariasi.
Gangguan ortopedik bisa disebabkan oleh problem prenatal (dalam kandungan) aau
perinatal (menjelang atau sesudah kelahiran), atau karena penyakit atau
kecelakaan saat anak-anak. Dengan bantuan alat adaptif dan teknologi
pengobatan, banyak anak yang menderita gangguan ortopedik bisa berfungsi normal
di kelas (Boyles & Contadino, 1997). Cerebral palsy adalah gangguan yang
berupa lemahnya koordinasi otot, tubuh sangat lemah dan goyah (shaking), atau
bicaranya tidak jelas. Penyebab umum dari cerebral palsy adalah kekurangan
oksigen saat kelahiran.
ü
Gangguan kejang-kejang. Jenis yang paling kerap
dijumpai adalah epilepsy, gangguan saraf yang biasanya ditandai dengan serangan
terhadap sensorimotor atau kejang-kejang. Epilepsy muncul dalam beberapa bentuk
berbeda (Barr, 2000; Resag, 2002). Dalam bentuknya yang paling umum, yang
dinamakan absent seizures, anak mengalami kejang-kejang dalam durasi singkat
(kurang dari 30 detik), tetapi bisa terjadi beberapa kali sampai seratus kali
dalam sehari. Sering -kali kemunculannya sangat singkat, atau kadang-kadang
ditandai dengan gerakan tertentu seperti mengangkat alis mata. Dalam bentuk
epilepsy lain yang disebut tonic-clonic, anak akan kehilangan kesadarannya dan
menjadi kaku, gemetar, dan bertingkah aneh. Bila parah, tonic-clonic bisa
berlangsung selama tiga sampai empat menit.
Retadarsi Mental
Makin banyak anak retardasi mental yang belajar di sekolah
umum. Ciri utama retardasi mental adalah lemahnya fungsi intelektual (Zigler,
2002). Lama sebelum muncul tes formal
untuk menilai kecerdasan, orang dengan retardasi mental dianggap sebagai orang
yang tidak dapat menguasai keahlian yang sesuai dengan umurnya dan tidak bisa
merawat diri sendiri. Nilai tes kecerdasan dipakai untuk menunjukkan seberapa
parahkah retardasi seseorang. Seorang anak mungkin mengalami retardasi ringan
dan dapat belajar di kelas umum, atau mungkin parah dan tidak bisa belajar di
kelas umum.
Retardasi mental adalah kondisi sebelum usia 18 tahun yang ditandai
dengan rendahnya kecerdasan (biasanya nilai IQ nya di bawah 70) dan sulit
beradaptasi dengan kehidupan sehari-hari. IQ rendah dan kemampuan beradaptasi
yang rendah biasanya tampak sejak kanak-kanak, dan tidak tampak pada periode
normal, dan keadaan retardasi ini bukan disebabkan oleh kecelakaan atau
penyakit atau cedera otak.
Ø
Klasifikasi dan tipe retardasi mental. Ratardasi
mental digolongkan menjadi retardasi ringan, moderat, berat, dan parah. Sekitar
85 persen murid dengan retardasi mental termasuk dalam kategori ringan (mild)
(Shonkoff, 1996). Pada usia remaja akhir, individu dengan retardasi mental
ringan dapat mengembangkan keahlian akademik yang setara dengan level grade
enam (Terman, dkk., 1996). Pada masa dewasa, banyak yang bisa bekerja dan
mencari nafkah sendiri dengan dukungan pengawasan atau dukungan kelompok.
Individu dengan retardasi mental berat membutuhkan lebih banyak dukungan.
Ø
Penyebab.
Retardasi mental disebabkan oleh factor genetic dan kerusakan otak (Dykens,
Hodapp, & Finucane, 2000).
·
Faktor genetik. Bentuk yang paling umum dari
retardasi mental adalah Down Syndrome (sindrom down) yang ditransmisikan
(diwariskan) secara genetik. Anak dengan sindrom down ini punya kromosom lebih
(kromosom ke-47). Wajahnya bulat, tengkorak yang datar, ada kelebihan lipatan
kulit diatas alis, lidah panjang, kaki pendek, dan retardasi kemampuan motor
dan mental. Fragile X syndrome bentuk
retardasi mental yang ditransmisikan secara genetik sebagai akibat dari
kromosom X yang tidak normal.
·
Kerusakan otak. Kerusakan otak dapat diakibatkan
oleh bermacam-macam infeksi atau karena factor lingkungan luar (Das, 2000).
Infeksi pada ibu hamil, seperti rubelia (German measles), sipilis, herpes, dan
AIDS, dapat menyebabkan retardasi pada diri anak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar