Rabu, 07 Juni 2017

RESUME KE-4 PSIKOLOGI PENDIDIKAN

PELAJAR YANG TIDAK BIASA

Siapakah anak yang menderita ketidakmampuan itu?
Dahulu istilah “ketidakmampuan” (disability) dan “cacat” (handicap) dapat dipakai bersama-sama, namun kini kedua istilah itu dibedakan. Disability adalah keterbatasan fungsi yang membatasi kemampuan seseorang. Handicap adalah kondisi yang dinisbahkan pada seseorang yang menderita ketidakmampuan. Kondisi ini boleh jadi disebabkan oleh masyarakat, lingkungan fisik, atau sikap orang itu sendiri (Lewis, 2002).
Para pendidik lebih sering menggunakan istilah “children with disabilities” (anak yang menderita gangguan/ketidakmampuan) ketimbang “disabled children” (anak cacat). Tujuannya adalah memberi penekanan pada anaknya, bukan pada cacat atau ketidakmampuannya. Anak-anak yang menderita ketidakmampuan juga tidak lagi disebut sebagai “handicapped” (penyandang cacat), walaupun istilah handicapping condition masih digunakan untuk mendeskripsikan hambatan belajar dan hambatan fungsi dari seseorang yang mengalami ketidakmampuan. Misalnya, ketika anak yang menggunakan kursi roda tidak memiliki akses yang memadai untuk ke kamar mandi, transportasi, dan sebagainya, maka ini disebut sebagai handicapping condition.
Kita akan mengelompokkan ketidakmampuan dan gangguan (disorder) sebagai berikut : gangguan organ indra (sensory), gangguan fisik, retardasi mental dan lain-lain.
Gangguan indra
Gangguan indra mencakup gangguan atau kerusakan penglihatan dan pendengaran.
ü  gangguan penglihatan. Beberapa murid mengalami problem penglihatan (visual) yang masih belum diperbaiki. Jika anda melihat murid anda sering memicingkan mata, membaca buku dari jarak yang amat dekat, sering mengucek-ucek mata, dan sering mengeluh karena pandangannya kabur atau suram, maka suruh mereka untuk memeriksakan diri (Boyles & Contadino, 1997).
ü  Gangguan pendengaran. Gangguan pendengaran dapat menyulitkan proses belajar anak.  Anak yang tuli secara lahir atau menderita tuli saat masih anak-anak biasanya lemah dalam kemampuan berbicara dan bahasanya. Dalam kelas anda mungkin ada anak yang menempelkan telinganya ke speaker, sering diminta pengulangan penjelasan, tidak mengikuti perintah, atau sering mengeluh sakit telinga, dingin, dan alergi, suruh mereka untuk memeriksakan diri ke ahli THT (Patterson & Wright, 1990).
Beberapa kemajuan medis dan teknologi, seperti yang disebutkan disini, juga telah meningkatkan kemampuan belajar anak yang menderita masalah pendengaran (Boyles & Contadino, 1997):
·         Pemasangan cochlear (dengan prosedur pembedahan). Ini adalah cara kontroversial karena banyak komunitas orang tuli menentangnya, sebab menganggapnya intrusive dan melukai kultur orang tuli. Yang lainnya beranggapan bahwa pemasangan cochlear ini bisa meningkatkan kualitas hidup banyak anak yang menderita problem pendengaran (Hallahan & Kauffman, 2003).
·         Menempatkan semacam alat di telinga (prosedur pembedahan untuk disfungsi telinga tingka menengah). Ini bukan prosedur permanen.
·         Sistem hearing aids dan amplifikasi.
·         Perangkat telekomunikasi, teletypewriter-telephone, dan RadioMail (menggunakan internet).

Gangguan fisik
Gangguan fisik anak antara lain adalah gangguan ortopedik, seperti gangguan karena cedera di otak (cerebral palsy), dan gangguan kejang-kejang (Seizure). Banyak anak yang mengalami gangguan fisik ini membutuhkan pendidikan khusus dan pelayanan khusus, seperti transportasi, terapi fisik, pelayanan kesehatan sekolah, dan pelayanan psikologi khusus.
ü  Gangguan ortopedik. Gangguan ortopedik biasanya berupa keterbatasan gerak atau kurang mampu mengontrol gerak karena ada masalah di otot, tulang, atau sendi. Tingkat keparahan gangguan ini bervariasi. Gangguan ortopedik bisa disebabkan oleh problem prenatal (dalam kandungan) aau perinatal (menjelang atau sesudah kelahiran), atau karena penyakit atau kecelakaan saat anak-anak. Dengan bantuan alat adaptif dan teknologi pengobatan, banyak anak yang menderita gangguan ortopedik bisa berfungsi normal di kelas (Boyles & Contadino, 1997). Cerebral palsy adalah gangguan yang berupa lemahnya koordinasi otot, tubuh sangat lemah dan goyah (shaking), atau bicaranya tidak jelas. Penyebab umum dari cerebral palsy adalah kekurangan oksigen saat kelahiran.
ü  Gangguan kejang-kejang. Jenis yang paling kerap dijumpai adalah epilepsy, gangguan saraf yang biasanya ditandai dengan serangan terhadap sensorimotor atau kejang-kejang. Epilepsy muncul dalam beberapa bentuk berbeda (Barr, 2000; Resag, 2002). Dalam bentuknya yang paling umum, yang dinamakan absent seizures, anak mengalami kejang-kejang dalam durasi singkat (kurang dari 30 detik), tetapi bisa terjadi beberapa kali sampai seratus kali dalam sehari. Sering -kali kemunculannya sangat singkat, atau kadang-kadang ditandai dengan gerakan tertentu seperti mengangkat alis mata. Dalam bentuk epilepsy lain yang disebut tonic-clonic, anak akan kehilangan kesadarannya dan menjadi kaku, gemetar, dan bertingkah aneh. Bila parah, tonic-clonic bisa berlangsung selama tiga sampai empat menit.

Retadarsi Mental
Makin banyak anak retardasi mental yang belajar di sekolah umum. Ciri utama retardasi mental adalah lemahnya fungsi intelektual (Zigler, 2002). Lama sebelum muncul  tes formal untuk menilai kecerdasan, orang dengan retardasi mental dianggap sebagai orang yang tidak dapat menguasai keahlian yang sesuai dengan umurnya dan tidak bisa merawat diri sendiri. Nilai tes kecerdasan dipakai untuk menunjukkan seberapa parahkah retardasi seseorang. Seorang anak mungkin mengalami retardasi ringan dan dapat belajar di kelas umum, atau mungkin parah dan tidak bisa belajar di kelas umum.
Retardasi mental adalah kondisi sebelum usia 18 tahun yang ditandai dengan rendahnya kecerdasan (biasanya nilai IQ nya di bawah 70) dan sulit beradaptasi dengan kehidupan sehari-hari. IQ rendah dan kemampuan beradaptasi yang rendah biasanya tampak sejak kanak-kanak, dan tidak tampak pada periode normal, dan keadaan retardasi ini bukan disebabkan oleh kecelakaan atau penyakit atau cedera otak.
Ø  Klasifikasi dan tipe retardasi mental. Ratardasi mental digolongkan menjadi retardasi ringan, moderat, berat, dan parah. Sekitar 85 persen murid dengan retardasi mental termasuk dalam kategori ringan (mild) (Shonkoff, 1996). Pada usia remaja akhir, individu dengan retardasi mental ringan dapat mengembangkan keahlian akademik yang setara dengan level grade enam (Terman, dkk., 1996). Pada masa dewasa, banyak yang bisa bekerja dan mencari nafkah sendiri dengan dukungan pengawasan atau dukungan kelompok. Individu dengan retardasi mental berat membutuhkan lebih banyak dukungan.
Ø   Penyebab. Retardasi mental disebabkan oleh factor genetic dan kerusakan otak (Dykens, Hodapp, & Finucane, 2000).
·         Faktor genetik. Bentuk yang paling umum dari retardasi mental adalah Down Syndrome (sindrom down) yang ditransmisikan (diwariskan) secara genetik. Anak dengan sindrom down ini punya kromosom lebih (kromosom ke-47). Wajahnya bulat, tengkorak yang datar, ada kelebihan lipatan kulit diatas alis, lidah panjang, kaki pendek, dan retardasi kemampuan motor dan mental.  Fragile X syndrome bentuk retardasi mental yang ditransmisikan secara genetik sebagai akibat dari kromosom X yang tidak normal.

·         Kerusakan otak. Kerusakan otak dapat diakibatkan oleh bermacam-macam infeksi atau karena factor lingkungan luar (Das, 2000). Infeksi pada ibu hamil, seperti rubelia (German measles), sipilis, herpes, dan AIDS, dapat menyebabkan retardasi pada diri anak. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar