Motivasi untuk meraih sesuatu
Perhatian terhadap motivasi di sekolah telah dipengaruhi
oleh perspektif kognitif. Kita akan mengetahui sejumlah strategi kognitif
efektif untuk meningkatkan motivasi murid untuk meraih sesuatu atau untuk
berprestasi. Kita mulai bagian ini dengan mengeksplorisasi perbedaan krusial
antara motivasi ekstrinsik (eksternal) dan motivasi instrinsik (internal). Ini
akan membawa kita pada pembahasan beberapa pandangan kognitif penting tentang
motivasi. Kemudian, kita akan mengkaji efek dari kecemasan terhadap prestasi
dan beberapa strategi instruksional untuk membantu murid agar lebih
termotivasi.
Motivasi Ekstrinsik dan Instrinsik
Motivasi Ekstrinsik adalah melakukan sesuatu untuk
mendapatkan sesuatu yang lain (cara untuk mencapai tujuan). Motivasi ekstrinsik
sering dipengaruhi oleh insentif eksternal seperti imbalan dan hukuman.
Misalnya, murid mungkin belajar keras menghadapi ujian untuk mendapatkan nilai
yang baik.
Perspektif behavioral menekankan arti penting dari motivasi
ekstrinsik dalam prestasi ini, sedangkan pendekatan kognitif dan humanistis
lebih menekankan pada arti penting dari motivasi instrinsik dalam prestasi.
Motivasi Intrinsik adalah motivasi internal untuk melakukan sesuatu demi
sesuatu itu sendiri (tujuan itu sendiri). Misalnya, murid mungkin belajar
menghadapi ujian karena dia senang dengan mata pelajaran yang diujikan.
Ada 2 macam motivasi intrinsic, yaitu :
1.
Determinasi diri dan pilihan personal
Salah satu pandangan tentang motivasi
instrinsik menekankan pada determinasi diri (deCharms, 1984; Deci, Koestner,
& Ryan, 2001; Deci & Ryan, 1994;
Ryan & Deci, 2000). Dalam pandangan ini, murid ingin percaya bahwa mereka
melakukan sesuatu karena kemauan sendiri, bukan karena kesuksesan atau imbalan
eksternal. Para periset menemukan bahwa motivasi internal dan minat instrinsik
dalam tugas sekolah naik apabila murid punya pilhan dan peluang untuk mengambil
tanggung jawab personal atas pembelajaran mereka.
2.
Pengalaman optimal. Mihaly Csikszentmihalyi
(1990,1993,2000; Nakamura & Csikszentmihalyi, 2002) juga mengembangkan ide
yang relevan untuk memahami motivasi instrinsik. Dia mempelajari pengalaman
optimal ini dari orang-orang selama lebih dari dua decade. Orang melaporkan
bahwa pengalaman optimal ini berupa perasaan senang dan bahagia yang
besar. Csikszentmihalyi menggunakan
istilah flow untuk mendeskripsikan pengalaman optimal dalam hidup. Dia
menemukan bahwa pengalamann optimal itu kebanyakan terjadi karena orang merasa
mampu menguasai dan berkonsentrasi penuh saat melakukan suatu aktivitas. Dia
mengatakan bahwa pengalaman optimal ini terjadi ketika individu terlibat dalam
tantangan yang mereka anggap tidak terlalu sulit tetapi juga tak terlalu mudah.
Flow paling mungkin terjadi di area dimana murid ditantang dan menganggap diri
mereka punya keahlian yang tinggi. Ketika keahlian murid tinggi tetapi
aktivitas yang dihadapinya tidak menantang , hasilnya adalah kejemuan. Ketika
level tantangan dan keahlian adalah rendah, murid merasa apati. Dan ketika
murid menghadapi tugas sulit yang dirasa tidak bisa mereka tangani, maka mereka
merasa cemas.
3.
Imbalan Ekstrinsik dan motivasi intrinsik.
Imbalan dapat berguna untuk mengubah perilaku. Akan tetapi, dalam beberapa
situasi imbalan atau hadiah dapat melemahkan pembelajaran. Dalam sebuah studi,
murid yang sudah tertarik dengan seni dan tidak tahu akan ada imbalan atau
hadiah menghabiskan lebih banyak waktu untuk menggambar ketimbang murid yang
juga tertarik dengan seni tetapi tahu akan ada hadiah (Lepper, Greene, &
Nisbettr, 1973).
Akan tetapi, hadiah dikelas dapat berguna
(Cameron, 2001). Dua kegunaannya adalah (Bandura, 1982; Deci, 1975): (1)
sebagai insentif agar mau mengerjakkan tugas, di mana tujuannya adalah
mengontrol perilaku murid, dan (2) mengandung informasi tentang penguasaan keahlian.
Ketika imbalan yang ditawarkan memberikan informasi tentang penguasaan keahlian
atau kemampuan, murid akan merasa kompeten dan bersemangat. Poin penting disini
adalah bahwa bukan imbalan itu sendiri yang menyebabkan efek, tetapi tawaran
atau ekspetasi atas imbalan itulah yang memberika efek (Schunk, 2001). Imbalan
yang digunakan sebagai insentif menimbulkan persepsi bahwa perilaku murid
disebabkan oleh imbalan eksternal, bukan oleh motivasi dalam diri murid untuk
menjadi pandai.
4.
Pergeseran developmental dalam motivsi
ekstrinsik dan instrinsik.
Banyak psikolog dan pendidik percaya adalah penting
bagi murid untuk mengembangkan internalisasi dan motivasi instrinsik yang lebih
besar saat mereka tumbuh. Akan tetapi, periset menemukan bahwa saat murid pindah
dari SD ke sekolah menengah, motivasi intrinsic mereka menurun (Harter, 1996).
Dalam sebuah studi riset, penurun motivasi intrinsic terbesar dan peningkatan
motivasi ekstrinsik terbesar terjadi di antara grade enam dan tujuh (Harter,
1981). Dalam studi lain, saat murid naik grade enam sampai delapan, makin
banyak murid yang mengatakan dalam studi ini, murid yang termotivasi secara
intrinsic berprestasi jauh lebih baik ketimbang mereka yang termotivasi secara
ekstrinsik.
Mengapa pergeseran ke arah motivasi
ekstrinsik ini terjadi saat murid naik ke kelas yang lebih tinggi? Salah satu
penjelasannya adalah Karena praktik kenaikan kelas memperkuat orientasi
motivasi eksternal. Artinya, saat murid bertambah usia, mereka terkungkung
dalam penekanan pada tujuan naik kelas dan karenanya motivasi internalnya
turun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar