Kamis, 06 April 2017

Resume ke-3 Psikologi Pendidikan

PERENCANAAN DAN INSTRUKSI PELAJARAN TEACHER - CENTERED & LEARNER - CENTERED

Perencanaan dan instruksi pelajaran teacher – centered.
Biasanya, fokus disekolah adalah pada perencanaan dan instruksi guru. Dalam pendekatan ini, perencanaan dan instruksi disusun dengan ketat dan guru mengarahkan pembelajaran murid.

Perencanaan pelajaran teacher – centered.
Tiga alat umum di sekolah yang berguna dalam perencanaan teacher – centered adalah menciptakan sasaran behavioral (perilaku), menganalisis tugas, dan menyusun taksonomi (klasifikasi) instruksional.
Menciptakan sasaran behavioral. Sasaran behavioral (behavioral objectives) adalah pernyataan tentang perubahan yang diharapkan oleh guru akan terjadi dalam kinerja murid. Menurut Robert mager (1962), sasaran behavioral harus spesifik. Mager percaya bahwa sasaran behavioral harus mengandung tiga bagian :
Perilaku murid. Focus pada apa yang akan dipelajari atau dilakukan murid.
Kondisi dimana perilaku terjadi. Menyatakan bagaimana perilaku akan di evaluasi atau dites.
Kriteria kinerja. Menentukan level kinerja yang dapat diterima.

Menganalis tugas. Alat lain dalam perencanaan teacher – centered adalah analisis tugas, yang difokuskan pada pemecahan suatu tugas kompleks yang dipelajari murid menjadi komponen – komponen (Alberto & Troutman, 1999). Analisis ini dapat melalui tiga langkah dasar (Moyer & Dardig, 1978) :
1. Menentukan keahlian atau konsep yang diperlukan murid untuk mempelajari tugas.
2. Mendaftar materi yang dibutuhkan untuk melakukan tugas, seperti kertas, pensil, kalkulator, dan sebagainya.
3. Mendaftar semua komponen tugas yang harus dilakukan.


Menyusun taksonomi instruksional. Taksonomi instruksional juga membantu pendekatan teacher – centered. Taksonomi adalah system klasifikasi. Taksonomi bloom dikembangkan oleh Benjamin Bloom dan kawan – kawannya (1956). Taksonomi ini mengklasifikasikan sasaran pendidikan menjadi tiga domain : kognitif, afektif, dan psikocmotor.
Domain kognitif. Taksonomi kognitif mengandung enam sasaran (Bloom dkk, 1956):
Pengetahuan. Murid punya kemampuan untuk mengingat informasi
Pemahaman. Murid memahami informasi dan dapat menerangkannya dengan menggunakan kalimat mereka sendiri.
Aplikasi. Murid menggunakan pengetahuan untuk memecahkan problem kehidupan nyata.
Analisis. Murid memecahkan informasi yang kompleks menjadi bagian kecil – kecil dan mengaitkan informasi dengan informasi lain.
Sintesis. Murid mengombinasikan elemen – elemen dan menciptakan informasi baru.
Evaluasi. Murid membuat penilaian dan keputusan yang baik.

Domain afektif. Taksonomi afektif terdiri dari lima sasaaran yang berhubungan dengan respons emosional terhadap tugas (Krathwohl, Bloom, & Masia, 1964). Masing – masing dari lima sasaran itu mensyaratkan agar murid menunjukkan tingkat komitmen atau intensitas emosional tertentu :
Penerimaan. Murid mengetahui atau memerhatikan sesuatu di lingkungan.
Respons. Murid termotivasi untuk belajar dan menunjukan perilaku baru sebagai hasil dari pengalamannya.
Menghargai. Murid terlibat atau berkomitmen pada beberapa pengalaman.
Pengorganisasian. Murid mengintegrasikan nilai baru ke perangkat nilai yang sudah ada dan memberi prioritas yang tepat.
Menghargai karakterisasi. Murid bertindak sesuai dengan nilai tersebut dan berkomitmennya kepada nilai tersebut.

Domain psikomotor. Kebanyakan dari kita menghubungkan aktivitas motor dengan pendidikan fisik dan atletik, tetapi banyak subjek lain, seperti menulis dengan tangan dan pengolahan kata, juga membutuhkan gerakan. Dalam sains, murid harus menggunakan peralatan yang kompleks; seni visual dan pahat membutuhkan koordinasi mata dan tangang. Sasaran psikomotor menurut Bloom adalah :
Gerak reflex. Murid merespons suatu stimulus secara reflex tanpa perlu banyak berpikir.
Gerak fundamental. Murid melakukan gerakan dasar untuk tujuan tertentu.
Kemampuan perseptual. Murid menggunakan indra seperti penglihatan, pendengaran, atau sentuhan, untuk melakukan sesuatu.
Kemampuan fisik. Murid mengembangkan daya tahan, kekuatan, fleksibilitas, dan kegesitan.
Gerakan terlatih. Murid melakukan keterampilan fisik yang kompleks dengan lancar.
Perilaku nondiskusif. Murid mengkomunikasikan perasaan dan emosinya melalui gerak tubuh.

Instruksi langsung.
Instruksi langsung (direct instruction) adalah pendekatan teacher – centered yang terstruktur yang dicirikan oleh arahan dan control guru, ekspetasi guru yang tinggi atas kemajuan murid, maksimalisasi waktu yang dihabiskan murid untuk tugas – tugas akademik, dan usaha oleh guru untuk meminimalkan pengaruh negative terhadap murid (Joyce & Weil, 1996). Focus instruksi langsung adalah aktivitas akademik; materi non – akademik (seperti mainan, game, dan teka teki) cenderung tidak dipakai; interaksi murid – guru (seperti percakapan atau perhatian tentang diri atau pribadi) juga tidak begitu ditekankan. Tujuan penting dari instruksi langsung adalah memaksimalkan waktu belajar murid (Stevenson, 2000). Waktu yang dipakai murid pada tugas – tugas akademik dikelas dinamakan waktu pembelajaran akademik. Pembelajaran membutuhkan waktu. Semakin banyak waktu pembelajaran murid, semakin besar kemungkinan menyatakan bahwa cara terbaik untuk memaksimalkan tugas akademik adalah menciptakan lingkungan belajar yang beriorientasi akademik secara terstruktur. Kotak Diversity & Education berikut ini mendeskripsikan riset lintas – kultural tentang jumlah waktu yang dipakai murid untuk mempelajari matematika di beberapa negara, dan juga memamparkan perbandingan antarnegara.

Strategi instruksional teacher – centered

Mengorietasikan. Sebelum menyajikan dan menjelaskan materi baru, susunlah kerangka pelajaran dan orientasikan murid ke materi baru tersebut (Joyce & Weil, 1996): (1) review aktifitas sehari sebelumnya; (2) diskusikan sasaran pelajaran; (3) beri instruksi yang jelas dan eksplisit tentang tugas yang harus dilakukan; dan (4) beri ulasan atas pelajaran untuk hari ini. Orientasi dan strukturisasi pada awal pelajaran ini memengaruhi perbaikan prestasi murid (Fisher dkk, 1980).

Advance organizer. Adalah aktivitas dan teknik pengajaran dengan membuat kerangka pelajaran dan mengorientasikan murid pada materi sebelum materi itu diajarkan (Ausubel, 1960). Terdiri dari dua bentuk, yaitu Expository advance organizer memberi murid pengetahuan baru yang akan mengorientasikan mereka ke pelajaran yang akan dating. Cara lainnya adalah mendeskripsikan tema pelajaran dan mengapa tema itu penting untuk mempelajari suatu topik.

Comparative advance organizer. Memperkenalkan materi baru dengan mengaitkannya dengan apa yang sudah diketahui murid.

Pengajaran, penjelasan, dan demonstrasi. Pengajaran dengan paparan / ceramah (lecturing), penjelasan dan demonstrasi adalah aktivitas yang biasa dilakukan guru dalam pendekatan instruksi langsung. Periset telah menemukan bahwa guru yang efektif menghabiskan lebih banyak waktu untuk menerangkan dan mendemonstrasikan materi baru (Rosenshine, 1985).

Pertanyaan dan diskusi. Diskusi dan pertanyaan perlu diintegrasikan ke dalam pendekatan instruksi teacher – centered (Weinstein, 1997). Dalam menggunakan strategi ini, adalah penting untuk merespons setiap kebutuhan pembelajaran murid sembari menjaga minat dan perhatian kelompok. Juga, penting untuk mendistribusikan partisipasi luas sembari mempertahankan semangat belajar. Tantangan lainnya adalah mengajak murid memberi konstribusi sambil mempertahankan focus pada pelajaran  lainnya.

Mastery learning (pembelajaran penguasaan materi). Mastery learning adalah pembelajaran satu konsep atau topic secara menyeluruh sebelum pindah ke topic yang lebih sulit. Pendekatan pembelajaran penguasaan materi yang baik harus mengikuti prosedur sebagai berikut (Bloom, 1971; Caroll, 1963):
Menyebutkan tugas atau pelajaran .
Bagilah pelajaran menjadi unit – unit pembelajaran yang berhubungan dengan sasaran instruksional.
Rancanglah prosedur instruksional dengan memasukkan umpan balik korektif kemurid jika mereka gagal menguasai materi pada level yang dapat diterima, misalnya 90 persen benar.
Beri tes pada akhir unit pelajaran dan akhir pelajaran untuk mengevaluasi apakah murid sudah menguasai semua materi pada level yang dapat diterima.

Seatwork. Seatwork (“tugas dibangku kelas”) adalah menyuruh semua murid atau sebagian besar murid untuk belajar sendiri – sendiri di bangku mereka. Guru berbeda – beda dala menggunakan pendekatan ini. Beberapa guru menggunakannya setiap hari.

Pekerjaan rumah. Keputusan instruksional penting lainnya adalah seberapa banyak dan apa jenis pekerjaan rumah yang harus diberikan kepada murid. Dalam riset lintas – kultural yang didiskusikan di atas, yang difokuskan kepada murid asia dan amerika, dilakukan penilaian terhadap waktu yang dihabiskan untuk pekerjaan rumah ( Chen & Stevenson, 1989).

Mengevaluasi instruksi teacher – centered.
Riset terhadap  instruksi teacher – centered telah memberikan banyak saran berharga untuk pengajaran, antara lain:
Jadilah perencana yang rapi dan ciptakan sasaran instruksional
Selalu berharap agar murid mendapatkan kemajuan dan memastikan agar murid mendapat waktu pembelajaran akademik yang memadai.
Luangkan waktu untuk memberikan orientasi pelajaran.
Gunakan metode lecturing, penjelasan dan demonstrasi guna membantu beberapa aspek dari pembelajaran murid.
Libatkan murid dalam pembelajaran dengan mengembangkan keterampilan mengajuka pertanyaan yang baik dan meminta mereka ikut dalam diskusi kelas.
Suruh murid mengerjakan seatwork atau tugas lainnya dan gunakan instruksi tersendiri untuk murid tertentu atau kelompok kecil tertentu.
Beri pekerjaan rumah kepada murid untuk meningkatkan waktu pembelajaran akademik dan libatkan orang tua untuk membantu pembelajaran anak.

Perencanaan dan instruksi pelajaran learned – centered.

Prinsip learned – centered.
Instruksi dan perencanaan learned –centered adalah pada siswa, bukan guru. Dalam sebuah studi, persepsi murid terhadap lingkungan pembelajaran yang positif dan hubungan interpersonal dengan guru merupakan factor paling penting yang memperkuat motivasi dan prestasi murid (McCombs, 2001 ; McCombs & Quiat,  2001).
Meningkatnya minat terhadap prinsip learner – centered dalam perencanaan dan instruksi ini telah menghasilkan satu set pedoman yang diberi judul learner – centered psychological principles : A Framework for School Reform and Redesign (Pesidential task force on psychology in education, 1992; work of the American association’s board of affairs, 1995; learner – centered principles work group, 1997). Pedoman ini disusun dan direvisi secara periodic oleh sekelompok ilmuwan dan pendidik ternama dari berbagai bidang ilmu. Prinsip – prinsip ini mengandung implikasi penting bagi cara guru merancang dan mengajar, karena prinsip – prinsip tersebut didasarkan pada riset tentang cara belajar paling efektif bagi murid.
Learned – centered principles work group (1997) percaya bahwa selama decade yang lalu riset psikologi yang relevan dengan pendidikan telah memberikan banyak informasi, dan meningkatkan pemahaman kita tentang aspek kognitif, emosional dan kontekstual dari pembelajaran. Kelompok kerja ini menyatakan bahwa prinsip psikologi learner – centered yang mereka usulkan telah didukung secara luas dan semakin banyak diadopsi di banyak kelas. Prinsip ini menekankan pembelajaran dan pelajar yang aktif dan reflektif. Menurut kelompok kerja ini, pendidikan akan lebih baik apabila focus utamanya adalah pada orang yang belajar (learner).
Prinsip learner – centered yang dikembangkan oleh gugus tugas American psychological association (APA) dapat diklasifikasikan berdasarkan empat factor : kognitif dan metakognitif, motivasional dan emosional, perkembangan dan sosial, dan perbedaan individual

Factor kognitif dan metakognitif
Ada enam prinsip :
1. Sifat proses pembelajaran. Pembelajaran subjek materi yang kompleks akan sangat efektif jka dilakukan dengan melalui proses pengkonstruksian makna dari informasi dan pengalaman.
2. Tujuan proses pembelajaran. Pelajar yang sukses, dengan bantuan dan pedoman instruksional, dapat menciptakan representasi pengetahuan yang bermakna dan koheren.
3. Konstruksi pengetahuan. Pelajar yang sukses bias menghubungkan informasi baru dengan pengetahuan yang sudah dimilikinya dengan cara yang mengandung makna tertentu.
4. Pemikiran strategis. Pelajar yang sukses dapat menciptakan dan menggunakan berbagai strategi pemikiran dan penalaran untuk mencapai tujuan pembelajaran.
5. Memikirkan tentang pemikiran (metakognisi). Pelajar yang sukses adalah pelajar metakognitif. Mereak merenungkan cara mereka belajar dan berpikir, menentukan tujuan pembelajaran yang reasonable, memilih strategi yang tepat, dan memantau kemajuan mereka menuju tujuan pembelajaran.
6. Konteks pembelajaran. Pembelajaran tidak terjadi di ruang hampa. Pembelajaran dipengaruhi oleh factor – factor lingkungan seperti kultur, teknologi, dan praktik instruksional. Guru memainkan peran penting dalam pembelajaran anak.

Factor motivasi dan emosional.
Ada dua prinsip yaitu :
1. Pengaruh motivasi dan emosi terhadap pembelajaran. Apa dan seberapa banyak hal – hal yang dipelajari akan dipengaruhi oleh motivasi pelajar. Keyakinan dan ekspetasi pelajar dapat memperkuat atau melemahkan kualitas pemikiran dan pemrosesan informasi pelajar. Emosi positif, seperti rasa ingin tahu, biasanya akan membantu memperlancar proses belajar. Namun emosi negative yang parah, seperti kecemasan yang besar, panic, kemarahan, dan pemikiran yang terkait dengan emosi negative, seperti takut berlebihan, takut gagal, dan takut hukuman, dapat melemahkan pembelajaran.
2. Motivasi intrinsik untuk belajar. Motivasi intrinsik adalah motivasi dari diri sendiri (self – determined). Rasa ingin tahu, pemikiran mendalam, dan kreativitas adalah indicator yang baik dari motivasi instrinsik anak untuk belajar.
3. Efek motivasi terhadap usaha. Usaha adalah aspek penting dari motivasi untuk belajar. Pembelajaran yang efektif membutuhkan banyak waktu, energy dan ketekunan.

Factor sosial dan developmental.

Mendasari dua prinsip learner – centered.
1. Pengaruh perkembangan pada pembelajaran. Individu akan belajar dengan baik apabila pembelajarannya sesuai dengan tingkat perkembangan anak. Karena perkembangan fisik, kognitif dan domain sosioemotional individu itu bervariasi, maka prestasi dalam domain ini juga bervariasi.
2. Pengaruh sosial terhadap pembelajaran. Pembelajaran dipengaruhi oleh interaksi sosial, hubungan interpersonal, dan komunikasi dengan orang lain.

Factor perbedaan individual.
1. Perbedaan individual dalam pembelajaran. Perbedaan ini adalah akibat dari pengalaman dan hereditas (heredity). Anak dilahirkan dengan kemampuan dan bakat yang bisan dikembangkan. Dan, melalui pengalaman, mereka akan memilih sendiri cara untuk belajar dan langkah yang diambil dalam belajar.
2. Pembelajaran dan diversitas. Akan lebih efektif jika perbedaan bahasa, kultural, dan latar belakang sosial murid ikut dipertimbangkan. Prinsip dasar yang sama dari pembelajaran, motivasi, dan instruksi berlaku untuk semua anak.
3. Standar dan penilaian. Menentukan standar yang tinggi dan menantang, dan menilai kemajuan pembelajaran dan siswa, adalah bagian integral dari proses pembelajaran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar