Rabu, 07 Juni 2017

RESUME KE - 6 PSIKOLOGI PENDIDIKAN

Motivasi untuk meraih sesuatu

Perhatian terhadap motivasi di sekolah telah dipengaruhi oleh perspektif kognitif. Kita akan mengetahui sejumlah strategi kognitif efektif untuk meningkatkan motivasi murid untuk meraih sesuatu atau untuk berprestasi. Kita mulai bagian ini dengan mengeksplorisasi perbedaan krusial antara motivasi ekstrinsik (eksternal) dan motivasi instrinsik (internal). Ini akan membawa kita pada pembahasan beberapa pandangan kognitif penting tentang motivasi. Kemudian, kita akan mengkaji efek dari kecemasan terhadap prestasi dan beberapa strategi instruksional untuk membantu murid agar lebih termotivasi.

Motivasi Ekstrinsik dan Instrinsik

Motivasi Ekstrinsik adalah melakukan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu yang lain (cara untuk mencapai tujuan). Motivasi ekstrinsik sering dipengaruhi oleh insentif eksternal seperti imbalan dan hukuman. Misalnya, murid mungkin belajar keras menghadapi ujian untuk mendapatkan nilai yang baik.
Perspektif behavioral menekankan arti penting dari motivasi ekstrinsik dalam prestasi ini, sedangkan pendekatan kognitif dan humanistis lebih menekankan pada arti penting dari motivasi instrinsik dalam prestasi. Motivasi Intrinsik adalah motivasi internal untuk melakukan sesuatu demi sesuatu itu sendiri (tujuan itu sendiri). Misalnya, murid mungkin belajar menghadapi ujian karena dia senang dengan mata pelajaran yang diujikan.

Ada 2 macam motivasi intrinsic, yaitu :
1.       Determinasi diri dan pilihan personal
Salah satu pandangan tentang motivasi instrinsik menekankan pada determinasi diri (deCharms, 1984; Deci, Koestner, &  Ryan, 2001; Deci & Ryan, 1994; Ryan & Deci, 2000). Dalam pandangan ini, murid ingin percaya bahwa mereka melakukan sesuatu karena kemauan sendiri, bukan karena kesuksesan atau imbalan eksternal. Para periset menemukan bahwa motivasi internal dan minat instrinsik dalam tugas sekolah naik apabila murid punya pilhan dan peluang untuk mengambil tanggung jawab personal atas pembelajaran mereka.
2.       Pengalaman optimal. Mihaly Csikszentmihalyi (1990,1993,2000; Nakamura & Csikszentmihalyi, 2002) juga mengembangkan ide yang relevan untuk memahami motivasi instrinsik. Dia mempelajari pengalaman optimal ini dari orang-orang selama lebih dari dua decade. Orang melaporkan bahwa pengalaman optimal ini berupa perasaan senang dan bahagia yang besar.  Csikszentmihalyi menggunakan istilah flow untuk mendeskripsikan pengalaman optimal dalam hidup. Dia menemukan bahwa pengalamann optimal itu kebanyakan terjadi karena orang merasa mampu menguasai dan berkonsentrasi penuh saat melakukan suatu aktivitas. Dia mengatakan bahwa pengalaman optimal ini terjadi ketika individu terlibat dalam tantangan yang mereka anggap tidak terlalu sulit tetapi juga tak terlalu mudah. Flow paling mungkin terjadi di area dimana murid ditantang dan menganggap diri mereka punya keahlian yang tinggi. Ketika keahlian murid tinggi tetapi aktivitas yang dihadapinya tidak menantang , hasilnya adalah kejemuan. Ketika level tantangan dan keahlian adalah rendah, murid merasa apati. Dan ketika murid menghadapi tugas sulit yang dirasa tidak bisa mereka tangani, maka mereka merasa cemas.
3.       Imbalan Ekstrinsik dan motivasi intrinsik. Imbalan dapat berguna untuk mengubah perilaku. Akan tetapi, dalam beberapa situasi imbalan atau hadiah dapat melemahkan pembelajaran. Dalam sebuah studi, murid yang sudah tertarik dengan seni dan tidak tahu akan ada imbalan atau hadiah menghabiskan lebih banyak waktu untuk menggambar ketimbang murid yang juga tertarik dengan seni tetapi tahu akan ada hadiah (Lepper, Greene, & Nisbettr, 1973).
Akan tetapi, hadiah dikelas dapat berguna (Cameron, 2001). Dua kegunaannya adalah (Bandura, 1982; Deci, 1975): (1) sebagai insentif agar mau mengerjakkan tugas, di mana tujuannya adalah mengontrol perilaku murid, dan (2) mengandung informasi tentang penguasaan keahlian. Ketika imbalan yang ditawarkan memberikan informasi tentang penguasaan keahlian atau kemampuan, murid akan merasa kompeten dan bersemangat. Poin penting disini adalah bahwa bukan imbalan itu sendiri yang menyebabkan efek, tetapi tawaran atau ekspetasi atas imbalan itulah yang memberika efek (Schunk, 2001). Imbalan yang digunakan sebagai insentif menimbulkan persepsi bahwa perilaku murid disebabkan oleh imbalan eksternal, bukan oleh motivasi dalam diri murid untuk menjadi pandai.

4.       Pergeseran developmental dalam motivsi ekstrinsik dan instrinsik. 
      Banyak psikolog dan pendidik percaya adalah penting bagi murid untuk mengembangkan internalisasi dan motivasi instrinsik yang lebih besar saat mereka tumbuh. Akan tetapi, periset menemukan bahwa saat murid pindah dari SD ke sekolah menengah, motivasi intrinsic mereka menurun (Harter, 1996). Dalam sebuah studi riset, penurun motivasi intrinsic terbesar dan peningkatan motivasi ekstrinsik terbesar terjadi di antara grade enam dan tujuh (Harter, 1981). Dalam studi lain, saat murid naik grade enam sampai delapan, makin banyak murid yang mengatakan dalam studi ini, murid yang termotivasi secara intrinsic berprestasi jauh lebih baik ketimbang mereka yang termotivasi secara ekstrinsik.
Mengapa pergeseran ke arah motivasi ekstrinsik ini terjadi saat murid naik ke kelas yang lebih tinggi? Salah satu penjelasannya adalah Karena praktik kenaikan kelas memperkuat orientasi motivasi eksternal. Artinya, saat murid bertambah usia, mereka terkungkung dalam penekanan pada tujuan naik kelas dan karenanya motivasi internalnya turun.



RESUME KE- 5 PSIKOLOGI PENDIDIKAN

Tes standar (Psikologi Pendidikan)

Tes standar atau tes yang dibakukan mengandung prosedur yang seragam untuk menentukan nilai dan administrasinya. Tes standar bisa membandingkan kemampuan murid dengan murid lain pada usia level yang sama , dan dalam banyak kasus perbandingan ini dilakukan di tingkat nasional. Apa bedanya tes standar dengan tes yang anda buat sendiri untuk menilai prestasi murid anda? Soal tes buatan guru cenderung difokuskan pada tujuan instruksional untuk kelas tertentu. Sedangkan tes standar mencakup berbagai materi yang lazimnya diajarkan di kebanyakan kelas (Airasian, 2001; Chatterji, 2003). Perbedaan lain antara tes standar dengan tes buatan guru adalah banyak tes standar yang memiliki aturan umum dan kebanyakan telah dievaluasi validitas dan realiabillitasnya. Kita akan mendiskusikan validitas dan reabilitas ini, tetapi pertama-tama mari kita bahas tujuan dari tes standar.

Tujuan tes standar

Tes standar biasanya bertujuan untuk:
·         Memberikan informasi tentang kemajuan murid. Tes standar adalah sumber informasi tentang seberapa tentang seberapa baik prestasi dan kemampuan murid.
·         Mendiagnosis kekuatan dan kelemahan murid. Tes standar juga dapat memberikan informasi tentang kekuatan dan kelemahan pembelajaran murid (Popham, 2002).
·         Memberikan bukti untuk penempatan murid dalam program khusus. Tes standar juga dapat dipakai untuk membuat keputusan tentang apakah murid diizinkan masuk ke program spesifik atau tdiak.
·         Memberikan informasi untuk merencanakan dan meningkatkan pengajaran atau instruksi. Bersama dengan informasi lain, nilai dari tes standar dapat dipakai oleh guru dalam membuat keputusan tentang instruksi.
·         Membantu administrator mengevaluasi program. Jika sekolah hendak beralih ke program pendidikan yang baru, administrasi sekolah harus tahu seberapa efektifkah program baru itu.
·         Memberikan akunbilitas. Sekolah dan guru diharapkan bertanggung jawab atas pengajaran muridnya.
Kriteria untuk mengevaluasi tes standar
Ø  Kelompok norma. Kelompok dari individu yang sama yang sebelumnya telah diberi ujian oleh penguji.
Ø  Validitas. Sejauh mana sebuah tes mengukur apa-apa yang hendak diukur hendak diukur dan apakah inferensi tentang nilai tes itu akurat atau tidak.
Ø  Reabilitas. Sejauh mana sebuah prosedur tes bisa menghasilkan nilai yang konsisten dan dapat direproduksi.
Ø  Keadilan. Tes yang adil adalah tes yang tidak bias (unbiased) dan tidak diskriminatif (McMillan, 2001).

Tes kecakapan dan prestasi

Ada dua tipe utama tes standar yaitu:
Ø  tes kecakapan. Tipe tes yang didesain guna memprediksi kemampuan murid untuk mempelajari suatu keahlian atau menguasai sesuatu dengan pendidikan dan training tingkat lanjut.
Ø  Tes prestasi. Tes yang dimaksudkan untuk mengukur apa yang telah dipelajari atau keahlian apa yang telah dikuasai.

Jenis-jenis prestasi standar

·         Survey batteries. Sebuah survey battery (baterai survei) adalah sekelompok tes pokok persoalan individual yang didesain untuk murid level tertentu. Survey batteries adalah standar nasional yang banyak digunakan (McMillan, 2001).
·         Tes untuk subjek spesifik. Beberapa tes prestasi standar dimaksudkan untuk menilai keahlian di bidang tertentu seperti membaca atau matematika. Karena tes ini difokuskan pada area spesifik, tes ini biasanya menilai suatu keahlian secara lebih mendetail dan ekstensif ketimbang survey battery.
·         Tes diagnostik. Terdiri dari evaluasi area pembelajaran spesifik secara relatif mendalam. Tujuannya adalah menentukan kebutuhan pembelajaran spesifik dari murid sehingga kebutuhan itu dapat dipenuhi melalui instruksi regular atau remedial.


RESUME KE-4 PSIKOLOGI PENDIDIKAN

PELAJAR YANG TIDAK BIASA

Siapakah anak yang menderita ketidakmampuan itu?
Dahulu istilah “ketidakmampuan” (disability) dan “cacat” (handicap) dapat dipakai bersama-sama, namun kini kedua istilah itu dibedakan. Disability adalah keterbatasan fungsi yang membatasi kemampuan seseorang. Handicap adalah kondisi yang dinisbahkan pada seseorang yang menderita ketidakmampuan. Kondisi ini boleh jadi disebabkan oleh masyarakat, lingkungan fisik, atau sikap orang itu sendiri (Lewis, 2002).
Para pendidik lebih sering menggunakan istilah “children with disabilities” (anak yang menderita gangguan/ketidakmampuan) ketimbang “disabled children” (anak cacat). Tujuannya adalah memberi penekanan pada anaknya, bukan pada cacat atau ketidakmampuannya. Anak-anak yang menderita ketidakmampuan juga tidak lagi disebut sebagai “handicapped” (penyandang cacat), walaupun istilah handicapping condition masih digunakan untuk mendeskripsikan hambatan belajar dan hambatan fungsi dari seseorang yang mengalami ketidakmampuan. Misalnya, ketika anak yang menggunakan kursi roda tidak memiliki akses yang memadai untuk ke kamar mandi, transportasi, dan sebagainya, maka ini disebut sebagai handicapping condition.
Kita akan mengelompokkan ketidakmampuan dan gangguan (disorder) sebagai berikut : gangguan organ indra (sensory), gangguan fisik, retardasi mental dan lain-lain.
Gangguan indra
Gangguan indra mencakup gangguan atau kerusakan penglihatan dan pendengaran.
ü  gangguan penglihatan. Beberapa murid mengalami problem penglihatan (visual) yang masih belum diperbaiki. Jika anda melihat murid anda sering memicingkan mata, membaca buku dari jarak yang amat dekat, sering mengucek-ucek mata, dan sering mengeluh karena pandangannya kabur atau suram, maka suruh mereka untuk memeriksakan diri (Boyles & Contadino, 1997).
ü  Gangguan pendengaran. Gangguan pendengaran dapat menyulitkan proses belajar anak.  Anak yang tuli secara lahir atau menderita tuli saat masih anak-anak biasanya lemah dalam kemampuan berbicara dan bahasanya. Dalam kelas anda mungkin ada anak yang menempelkan telinganya ke speaker, sering diminta pengulangan penjelasan, tidak mengikuti perintah, atau sering mengeluh sakit telinga, dingin, dan alergi, suruh mereka untuk memeriksakan diri ke ahli THT (Patterson & Wright, 1990).
Beberapa kemajuan medis dan teknologi, seperti yang disebutkan disini, juga telah meningkatkan kemampuan belajar anak yang menderita masalah pendengaran (Boyles & Contadino, 1997):
·         Pemasangan cochlear (dengan prosedur pembedahan). Ini adalah cara kontroversial karena banyak komunitas orang tuli menentangnya, sebab menganggapnya intrusive dan melukai kultur orang tuli. Yang lainnya beranggapan bahwa pemasangan cochlear ini bisa meningkatkan kualitas hidup banyak anak yang menderita problem pendengaran (Hallahan & Kauffman, 2003).
·         Menempatkan semacam alat di telinga (prosedur pembedahan untuk disfungsi telinga tingka menengah). Ini bukan prosedur permanen.
·         Sistem hearing aids dan amplifikasi.
·         Perangkat telekomunikasi, teletypewriter-telephone, dan RadioMail (menggunakan internet).

Gangguan fisik
Gangguan fisik anak antara lain adalah gangguan ortopedik, seperti gangguan karena cedera di otak (cerebral palsy), dan gangguan kejang-kejang (Seizure). Banyak anak yang mengalami gangguan fisik ini membutuhkan pendidikan khusus dan pelayanan khusus, seperti transportasi, terapi fisik, pelayanan kesehatan sekolah, dan pelayanan psikologi khusus.
ü  Gangguan ortopedik. Gangguan ortopedik biasanya berupa keterbatasan gerak atau kurang mampu mengontrol gerak karena ada masalah di otot, tulang, atau sendi. Tingkat keparahan gangguan ini bervariasi. Gangguan ortopedik bisa disebabkan oleh problem prenatal (dalam kandungan) aau perinatal (menjelang atau sesudah kelahiran), atau karena penyakit atau kecelakaan saat anak-anak. Dengan bantuan alat adaptif dan teknologi pengobatan, banyak anak yang menderita gangguan ortopedik bisa berfungsi normal di kelas (Boyles & Contadino, 1997). Cerebral palsy adalah gangguan yang berupa lemahnya koordinasi otot, tubuh sangat lemah dan goyah (shaking), atau bicaranya tidak jelas. Penyebab umum dari cerebral palsy adalah kekurangan oksigen saat kelahiran.
ü  Gangguan kejang-kejang. Jenis yang paling kerap dijumpai adalah epilepsy, gangguan saraf yang biasanya ditandai dengan serangan terhadap sensorimotor atau kejang-kejang. Epilepsy muncul dalam beberapa bentuk berbeda (Barr, 2000; Resag, 2002). Dalam bentuknya yang paling umum, yang dinamakan absent seizures, anak mengalami kejang-kejang dalam durasi singkat (kurang dari 30 detik), tetapi bisa terjadi beberapa kali sampai seratus kali dalam sehari. Sering -kali kemunculannya sangat singkat, atau kadang-kadang ditandai dengan gerakan tertentu seperti mengangkat alis mata. Dalam bentuk epilepsy lain yang disebut tonic-clonic, anak akan kehilangan kesadarannya dan menjadi kaku, gemetar, dan bertingkah aneh. Bila parah, tonic-clonic bisa berlangsung selama tiga sampai empat menit.

Retadarsi Mental
Makin banyak anak retardasi mental yang belajar di sekolah umum. Ciri utama retardasi mental adalah lemahnya fungsi intelektual (Zigler, 2002). Lama sebelum muncul  tes formal untuk menilai kecerdasan, orang dengan retardasi mental dianggap sebagai orang yang tidak dapat menguasai keahlian yang sesuai dengan umurnya dan tidak bisa merawat diri sendiri. Nilai tes kecerdasan dipakai untuk menunjukkan seberapa parahkah retardasi seseorang. Seorang anak mungkin mengalami retardasi ringan dan dapat belajar di kelas umum, atau mungkin parah dan tidak bisa belajar di kelas umum.
Retardasi mental adalah kondisi sebelum usia 18 tahun yang ditandai dengan rendahnya kecerdasan (biasanya nilai IQ nya di bawah 70) dan sulit beradaptasi dengan kehidupan sehari-hari. IQ rendah dan kemampuan beradaptasi yang rendah biasanya tampak sejak kanak-kanak, dan tidak tampak pada periode normal, dan keadaan retardasi ini bukan disebabkan oleh kecelakaan atau penyakit atau cedera otak.
Ø  Klasifikasi dan tipe retardasi mental. Ratardasi mental digolongkan menjadi retardasi ringan, moderat, berat, dan parah. Sekitar 85 persen murid dengan retardasi mental termasuk dalam kategori ringan (mild) (Shonkoff, 1996). Pada usia remaja akhir, individu dengan retardasi mental ringan dapat mengembangkan keahlian akademik yang setara dengan level grade enam (Terman, dkk., 1996). Pada masa dewasa, banyak yang bisa bekerja dan mencari nafkah sendiri dengan dukungan pengawasan atau dukungan kelompok. Individu dengan retardasi mental berat membutuhkan lebih banyak dukungan.
Ø   Penyebab. Retardasi mental disebabkan oleh factor genetic dan kerusakan otak (Dykens, Hodapp, & Finucane, 2000).
·         Faktor genetik. Bentuk yang paling umum dari retardasi mental adalah Down Syndrome (sindrom down) yang ditransmisikan (diwariskan) secara genetik. Anak dengan sindrom down ini punya kromosom lebih (kromosom ke-47). Wajahnya bulat, tengkorak yang datar, ada kelebihan lipatan kulit diatas alis, lidah panjang, kaki pendek, dan retardasi kemampuan motor dan mental.  Fragile X syndrome bentuk retardasi mental yang ditransmisikan secara genetik sebagai akibat dari kromosom X yang tidak normal.

·         Kerusakan otak. Kerusakan otak dapat diakibatkan oleh bermacam-macam infeksi atau karena factor lingkungan luar (Das, 2000). Infeksi pada ibu hamil, seperti rubelia (German measles), sipilis, herpes, dan AIDS, dapat menyebabkan retardasi pada diri anak.